Satu Tahun Museum HAM Aceh, Waspadai Memori Konflik

Posted on

BANDA ACEH-Kesepakatan damai di Helsinki telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat Aceh, baik sisi ekonomi, politik, pendidikan, maupun kebudayaan. Namun, potensi terulangnya konflik bisa saja terjadi manakala tidak diwaspadai oleh setiap pihak.

Hal itu disampaikan Direktur Museum HAM Aceh, Reza Idria, dalam surat pers yang dikirimkan ke redaksi The Atjeh Post, Sabtu 9 Juni 2012. Menurut Reza, Aceh mesti merawat ingatan tentang kenangan masa silam sehingga memori tentang dampak kekerasan terus dijaga.

“Hal ini bertujuan agar kejahatan perang yang merupakan malapetaka akibat tindakan manusia atau man-made disaster tidak terulang lagi,” tulisnya.

Untuk itu, kata Reza, Museum HAM Aceh bukan bermaksud mengungkit luka lama, melainkan salah satu wujud dedikasi pengoptimalan pengetahuan masyarakat tentang makna keadilan transisi dan kampanye antikejahatan kemanusiaan.

“Hal ini juga sesuai dengan mandat dari MoU Helsinki (2005) serta selaras dengan Pasal 229 UU No. 11 tahun 2006. Sejak peluncuran tahun lalu, Museum HAM Aceh telah memberi sumbangan tersendiri bagi kerja-kerja kemanusiaan di Aceh dan mendorong terjaganya perdamaian serta tawaran mekanisme penegakan keadilan bagi korban pelanggaran HAM,” ujar alumnus Universitas Leiden itu.

Walaupun demikian, tambah pengurus Komunitas Tikar Pandan itu, fakta di lapangan menunjukkan cara-cara kekerasan dan pelanggaran terhadap Hak Azasi Manusia masih kerap terjadi di Aceh. Reza mencontohkan sejumlah kasus yang mencuat selama proses Pilkada Aceh 2012.

Kata dia, kasus kekerasan selama Pilkada Aceh menunjukkan bahwa pemahaman terhadap bagaimana membangun perdamaian dan penghargaan HAM masih sangat rentan.

Dalam rangka ulang tahun pertama, Museum HAM Aceh yang bertempat di Jalan Lamreung, Nomor 20, Ulee Kareng, Banda Aceh, telah mempersipakan rangkaian agenda. Paket acara yang akan menampilkan orasi kebudayaan oleh Nezar Patria itu akan dimulai nanti malam, Sabtu 9 Juni 2012 pukul 20.00 WIB.

Kecuali orasi kebudayaan, ulang tahun Museum HAM juga akan diisi dengan pementasan seni oleh Agus Nur Amal atau Agus PMTOH, pameran visual artistik, dan presentasi dokumen digital Museum HAM Aceh.

“Museum ini merupakan buah pikiran dan kerja konsorsium advokasi sejumlah lembaga swadaya masyarakat Aceh yang terdiri atas Koalisi NGO-HAM, Kontras Aceh, LBH Aceh, dan Komunitas Tikar Pandan, dengan dukungan ICTJ,” tulis Reza.[]Atjeh PostHRN

2 thoughts on “Satu Tahun Museum HAM Aceh, Waspadai Memori Konflik

    jaka said:
    Juni 14, 2012 pukul 8:30 am

    Salam Kenal Ya Untuk Semuanya..🙂

    nadiaananda said:
    Juni 14, 2012 pukul 8:31 am

    Bersama Gorengan dan camilan ane nobatkan agan ini sebagai Penulis.. Heheheh.. Mau?? Mau??😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s