Menunggu di Gerbang Gampong

Posted on

Cerpen Ramajani Sinaga

[Atjeh Post, 21 Juni 2012]

HIDUP dengan sepetak sawah di Gampông Lam Peudeh telah membuat Cut Bang ingin beranjak dari gampông ini. Penghasilan di sini memang tidak seberapa, sedangkan biaya hidup semakin tinggi. Cut bang ingin pergi merantau ke sebuah kota besar untuk mengadu nasib.

“Aku akan ke kota, Dek Cut. Kau di gampông saja untuk menjaga bayi yang sedang kau kadung. Nanti setelah aku dapat pekerjaan tetap di kota, akan kujemput kau dan anak kita, Dek Cut.”

Aku diam tanpa menjawab perkataannya. Bagiku perkataannya itu seperti halilintar panas yang sedang menyambar tubuhku. Ini bukan yang pertama kali dia memintaku supaya merelakannya pergi merantau ke kota mengadu nasib. Namun, dia berusaha untuk meyakinkanku agar aku harus selalu percaya kepadanya. Tiba-tiba dia menggenggamkan sebuah benda pada kepalan tanganku.

“Apa ini, Cut Bang?”

“Kau harus berjanji tidak akan membuang batu ini sebelum aku pulang untuk menjemputmu dan anak kita nanti. Kau harus menjaga anak kita sebelum aku pulang, Dek Cut.”

Cut Bang meyakinkanku hanya dengan sebuah batu. Namun, sebenarnya aku percaya padanya. Aku sudah mengenal Cut Bang sejak lama sebelum kami menikah. Maka aku menggenggam batu itu dalam kepalan tanganku sembari berjanji agar aku percaya kepada Cut Bang dan merelakannya pergi merantau. Aku juga harus menjaga bayi dalam kandunganku penuh kasih sayang.

“Nanti setelah aku pulang  ke gampông ini, kau harus menunjukan batu itu. Batu itu tanda lambang setia, Dek Cut,” aku mengangguk dan kucoba untuk tersenyum di hadapannya, meskipun itu sangat berat.

***

Cut Bang memang telah pergi meninggalkan aku di gampong ini. Aku selalu berusaha untuk tabah. Meskipun beberapa tetangga sedang membicarakan masalahku dengan Cut Bang. Mereka mengatakan aku perempuan lemah yang merelakan suamiku pergi merantau tanpa jelas.

Beberapa bulan setelah kepergian Cut Bang di kota besar, aku melahirkan bayi dari kandunganku. Aku memang selalu mendapat kabar dari Cut Bang melalui surat yang selalu ia kirim bersama sedikit biaya untuk kehidupanku.

Pada surat kali ini, Cut Bang memberi kabar bahwa dia sudah mendapatkan pekerjaan tetap di kota, meskipun dia meminta maaf kepadaku karena dia tidak berada di sampingku saat aku melahirkan. Cut Bang meminta maaf sepenuh hati, aku mafhum dan memaafkan Cut Bang.

Mendapatkan kabar baik dari Cut Bang adalah suatu kebahagiaan yang hakiki. Walaupun sebenarnya aku ingin dia cepat pulang gampong dan membawaku juga pergi ke kota bersamanya.

***

Aku tidak pernah percaya pada orang lain tentang kabar bohong itu. Aku percaya bahwa Cut Bang akan datang menjemputku bersama anakku suatu saat nanti. Saat ini aku berjuang membesarkan anakku dengan hasil keringatku sendiri.

Cut Bang memang tidak seperti dulu, dia sudah sangat jarang mengirimkan surat dan biaya kehidupanku. Aku harus bekerja keras dengan sepetak sawah yang berada di samping rumahku.

“Suamimu sudah menikah di kota, Cut,” ucap seorang perempuan kepadaku.

“Aku percaya padanya,” hanya itu jawaban yang selalu aku sampaikan saat beberapa orang berkata bahwa Cut Bang telah sukses di kota dan dia sudah menikahi seorang perempuan kota.

Terkadang aku memang goyah dengan ucapan-ucapan orang di gampông tentang kabar Cut Bang. Aku akan menggenggam sebuah batu yang diberikan Cut Bang dahulu sebelum dia pergi merantau.

“Dia sudah menikah. Jangan lagi kau harapkan dia, Cut.”

“Aku sangat percaya padanya,” jawabku kepada orang itu.

Tidak terhitung lagi jumlah orang yang sudah mengutarakan kabar itu padaku. Aku bukan perempuan lemah. Aku tetap percaya pada kesetiaan Cut Bang.

Anakku semakin hari bertambah usianya dan tampak mirip dengan Cut Bang, itu sebabnya aku merasa tidak sendiri. Aku memang khawatir. Tidak terhitung jumlah surat yang telah aku kirimkan kepada Cut Bang di kota, namun dia tiada membalas surat-suratku.

***

Hari ini aku mendapat kabar bahwa Cut Bang telah pulang dari kota. Aku merindukannya karena dia suamiku. Pasti bayi dalam gendonganku juga sangat merindu pada ayahnya. Anakku juga seperti anak-anak yang lain. Anakku butuh kasih sayang seorang ayah.

Kabar tentang perkawinan Cut Bang dengan seorang perempuan kota telah diketahui semua orang di Gampông Lam Peudeh, kabar itu seperti angin yang berhembus dan menganga hingga diketahui setiap orang di sini. Namun, aku tidak percaya kabar itu sebelum aku memastikannya sendiri.

Aku memasak gulai pli’ek, jenis lauk nasi kesukaan Cut Bang. Aku memasaknya di rumah dengan perasaan bahagia. Aku harus menyambutnya dengan ceria seperti ucapannya dahulu. Dia pasti akan menjemputku untuk dibawa ke kota.

***

Pada siang hari, aku menunggu Cut Bang di gerbang gampong Lam Peudeh. Aku menggendong anakku sembari mengepal sebuah batu. Persis seperti ucapan Cut Bang dahulu, bahwa aku harus menunjukkan batu pemberiannya saat dia pulang gampông. Sangat lama aku menunggu Cut Bang di pintu gerbang gampong. Bening keringat mengalir dari keningku. Anakku menangis meskipun sudah aku susui dalam gendonganku. Aku harus sabar jika ingin bertemu Cut Bang, pikirku.

Lamu aku menunggu Cut Bang di gerbang gampong, akhirnya Cut Bang datang. Namun, aku tiada bahagia, karena melihatnya datang bersama dengan seorang wanita yang juga sedang menggendong bayi. Kedatangan Cut Bang tidak seperti janjinya dahulu bahwa dia akan setia. Wanita itu tampak sangat berpendidikan.

Aku lama menatap mata Cut Bang, meskipun rasa rindu ini menghinggapi, namun saat ini waktu yang tidak tepat untuk mengutarakannya. Tiba-tiba Cut Bang membuang muka dari pandanganku.

“Siapa dia, Bang?” tanya perempuan kota itu kepada Cut Bang.

“Entah, abang tidak kenal. Mungkin dia perempuan gila di gampong ini,” ucap Cut Bang dengan pandangan yang meledek ke arahku.

Saraf-saraf yang berada pada tubuhku terasa berteriak saat mendengar ucapannya. Namun aku bukan seorang wanita yang lemah. Aku wanita baja perkasa. Maka aku mengangkat tangan kananku yang isinya adalah batu pemberian Cut Bang dahulu sebelum dia pergi merantau.

Tanpa perintah, aku melemparkan batu itu dengan sekuat tenagaku ke kepala Cut Bang. Terdengar dia berteriak kesakitan. Aku berpaling dan bahagia telah melemparkan batu itu, jadi aku tidak akan terikat janji kesetiaan lagi dengannya.[]
Ramajani Sinaga, mahasiswa semester dua FKIP PBSI Unsyiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s