Reungke’eut Meureudu

Posted on

oleh Edi Miswar Mustafa

[Atjehpost, 6 Juli 2012]

PERLAHAN, lelaki itu memanjat poho kelapa tersebut. Sebelah tanganya menggenggam parang. Dengan parang itulah, ia akan menetak tandan kelapa hingga buah kelapa jatuh. Kaki lelaki itu diikat dengan tali. Orang Aceh menyebut tali itu “reungke’eut”.

Reungke’eut biasanya dibuat dari kulit pohon waru. Namun, dapat juga dari kain. Kain itu diputar berlawanan haluan sehingga terlihat seperti akar kayu. ”Meunyo hana reungke’eut, glue (kalau tidak ada reungke’eut, licin),” kata Leman, pemanjat kelapa di Meureudu.

Kepada The Atjeh Post, Leman memperlihatkan selembar kain yang diputar sehingga membulat. Kain yang sebelumnya terlihat tipis jadi tampak bulat dan kuat menyerupai akar kayu. Selanjutnya, Leman memperlihatkan kepiawaannya memanjat kelapa. Dengan parang di tangan kanan, warga Gampông Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, itu memanjat pohon kelapa.

Selain menjatuhkan buah kelapa, pelepah-pelepah yang sudah berwarna coklat dan bengkok ke bawah juga ditarik Leman agar pohon kelapa itu tampak bersih. Setelah tandan-tandan kelapa yang diinginkan pemilik pohon kelapa habis, barulah ia turun. Ia beralih ke pohon kelapa lain. Waktu yang diperlukan untuk sebatang kelapa sekitar lima belas menit.

Pokokjih nyoe tanyoe biasa taék ngön reungke’eut, hana mangat lé taék than reungke’eut (pokoknya kalau kalau biasanya memanjat dengan reungke’eut, tidak enak lagi kalau tidak ada reungke’eut),” ujar Leman.

Ia memetik kelapa yang pateun dan riekPateun adalah kelapa setengah tua dan sudah penuh isinya. Sementara kelapa riek adalah kelapa yang sudah tua, ditandai dengan kulit yang sudah coklat. Kelapa pateun, kulitnya masih dominan berwarna hijau atau kuning tua.

Untuk memanjat sebatang kelapa sekaligus mengupas atau menyundak, Leman diupah Rp10.000. ”Nyoe taék mantöng Rp8.000 (kalau naik saja Rp8.000),” ujar Leman sambil mengupas kelapa dengan sundak.

Sundak dalam bahasa Aceh dapat berarti alat untuk mengupas, dapat pula berarti proses pengupasan. Menurut kamus Bahasa Aceh, sundak adalah batang besi yang pipih ujungnya, yang ditancapkan ke tanah untuk menguliti kelapa atau senjata yang disandang sedemikian rupa sehingga hulunya keluar miring jauh dari pinggang.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s