Riwayatmu, Wahai Patarana

Posted on

oleh EDI MISWAR MUSTAFA

[Atjeh Post, 12 Juli 2012]

SELASA, 11 Juli 2012, langit cerah. Kulit tangan yang tak tertutup pipa lengan terasa memerih. Setelah berbelok ke sekian kali dan melewati kampung di Kecamatan Meurah Dua, Ulim, sampailah saya di kampung Kiran Baroh, salah satu kampung di kecamatan Jangka Buya, Pidie Jaya. Saya bersua Macut Mah serta Abu Din yang sedang menjemur patarana.

Patarana dalam bahasa Aceh disebut pliek. Ini bahan utama untuk memasak kuah pliek, masakan kesukaan banyak orang Aceh.

Abu Din bernama lengkap Syarifudin. Ia lahir tahun 1945. Tangan tuanya terlihat memaksa memutar gagang peuneurah agar makin menyempit dan minyak dari dalam klah keluar. Sementara Macut Mah yang aslinya bernama Fatimah, 69 tahun, sedang memasukkan pliek yang masih lembek itu ke dalam klah.

Klah terbuat dari bambu dan bentuknya seperti cincin raksasa. Sementara itu, peuneurah alat kempitan yang dibuat dari kayu biasa yang ditancapkan ke tanah dan ditambahi dengan pemutar.

Setelah dirasa minyak dalam klah yang dikempit peuneurah tadi habis, gagang diputar ke arah sebaliknya. Kemudian, klah berisi pliek dicongkel dan dijemur kembali. Sedangkan klah yang tadi diisikan pliek oleh Macut Mah dimasukkan dalam peuneurah, klah dilapisi situek (pelapah pinang) lantas kemudian gagang tersebut diputar kembali. Demikian proses tersebut terus berulang.

”Satu kilo Rp25 ribu,” kata Macut Mah ditanya berapa harga sekilo pliek.

Namun, harga tersebut terbilang tak sepadan dibandingkan kalau kelapa tersebut dijual langsung kepada tengkulak. Karenanya, setelah musibah tsunami, kurang lebih delapan tahun lalu, baru kali ini ia kembali mengerjakan pekerjaan ini.

”Buatnya lama, meskipun dari situ kita pun dapat minyak kelapa. Tapi, coba bayangkan, dari kelapa harus di­-sundak (dikupas) lalu dilobangi lantas airnya dibuang baru kemudian kelapa itu diperam sampai tujuh hari,” ujarnya.

Setelah itu, kelapa-kelapa tersebut dibelah dua dan dikukur. Baru kemudian dijemur sampai 4 ataupun bahkan 7 hari. “Tergantung mataharinya. Ini sudah tiga hari,” kata Macut Mah sambil menunjuk ke pliek-nya yang masih berwarna putih dan lembek.[]

3 thoughts on “Riwayatmu, Wahai Patarana

    nadiaananda said:
    Juli 12, 2012 pukul 5:56 pm

    Baca artikel ditambah ngemil Gorengan plus cabe nya.. Mantepp sangadh.. Jadi Semangat..!!😛

    nadiaananda said:
    Juli 13, 2012 pukul 2:19 am

    Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali..🙂

    Khusna Khairunnisa said:
    Desember 26, 2012 pukul 9:37 am

    sekali makan pakai kuah pliek waktu arisan di komplek, di sebuah keluarga aceh. saya pikir sayur oblok-oblok, tapi rasanya kok beda. enak banget, pengen makan lagi, tapi tetengga2 yang udah belasan tahun di sini pun ga tau di mana cari pliek u di riau, apalagi saya. harus mendatangkan langsung dari aceh katanya. beruntungnya saya menjadi segelintir orang yang pernah menikmati sayur pliek u.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s