Nasib Puisi Mbeling di Aceh

Posted on

oleh Hendra Kasmi
[Serambi Indonesia, 15 Juli 2012]

Puisi mbeling dikenal luas di kalangan masyarakat Indonesia setelah dipopulerkan Remy Sylado di Majalah Aktuil di  era ’70-an. Sejak awal berkembang, puisi mbeling telah berbenturan dengan tradisi saat itu.  Salah satu contohnya adalah ketika Remy mempublikasikan sebuah puisi dengan bahasa sastra  agak tabu di Majalah Aktuil yang membuat berang pemerintah.

Kisruh pun meletup, pernyataan keberatan melayang langsung dari Departemen Penerangan. Tak hanya itu, majalah Aktuil terancam dicabut SIT- nya oleh Deppen.

Maksud  penyair kawakan itu mencetuskan puisi mbeling punya dua kepentingan, yang pertama untuk memberikan pencerahan terhadap ruang kreativitas dari penjajahan kosakata. Dapat kita bayangkan sebelum era ’70-an begitu rumitnya bentuk apresiasi puisi, seolah-olah sastrawan ingin mengukuhkan bahwa puisi hanya berhak diproduksi oleh sekelompok orang dan konsumennya hanyalah segelintir penikmat sastra. Bertahun-tahun sebelum puisi mbeling muncul, pikiran kita tertawan dalam konsep konvensional dan pemikiran sempit kesusastraan, tanpa sadar kita terpuruk dalam racun kata-kata yang berbunga-bunga dan mengaburkan makna yang disampaikan penulis. Kedua mempunyai maksud politik, yakni perlawanan terhadap gerontokrasi Orde Baru pada tahun 1970. Pada awal era Orde Baru semua bentuk kritik yang menyorot kinerja pemerintah baik dari pihak media, mahasiswa, maupun seniman dibungkam. Dalam kemelut politik saat itu, sastrawan mbeling  berusaha berada di garda depan dalam meneriakkan slogan perlawanannya.

Mbeling merupakan bentuk revolusi kesusastraan Indonesia, memberikan ruang demokrasi sebebas-bebasnya dalam berkarya, tak ada garis pembatas yang memisahkan sastrawan profesional dengan amatiran, penikmat sastra dengan masyarakat biasa. Puisi mbeling muncul untuk  memberikan pemahaman bahwa karya sastra  milik semua golongan masyarakat, siapa pun bisa menulis, mengapresiasi maupun menikmatinya.  Namun kelahiran genre puisi ini menjadi ancaman bagi penyair konvensional, pasalnya periuk nasi segelintir di antara mereka menjadi terganggu. Rubik sastra yang menjadi lahan mereka dalam memetik panen menjadi sepi dari sorotan pembaca, sehingga popularitas mereka menjadi menurun.  Proyek kesusastraan  dalam wadah himpunan mereka seperti dewan kesenian juga terpuruk karena semua orang tidak lagi tergantung pada sebuah pusaran wadah yang besar. Semua kelompok bisa membentuk komunitasnya sendiri dengan karya-karyanya yang bisa digarap dan dipublikasikan secara mandiri.

Di Aceh puisi mbeling agak susah beradaptasi dengan ranah kesusastraan lokal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sastra Aceh masih sangat terikat dengan pola persajakan lama seperti rima, bait, larik, dan irama. Seolah suatu hal yang tabu bila pola persajakan melawan kaidah  lama. Syair, hikayat, pantun, gurindam merupakan genre puisi di Aceh yang sampai saat ini mengakar kuat dalam ranah masyarakat Aceh. Pantun mesti terdiri atas  empat baris sebait dan  pola persajakan terikat dengan rima abab , sedangkan syair terikat dengan rima aaaa. Walau demikian, banyak karya sastra di Aceh yang maknanya mudah dicerna dan ditafsirkan oleh  masyarakat Aceh karena dalam pemilihan kata (diksi) dalam puisi Aceh tidak berlebih-lebihan karena karya sastra tersebut banyak berisi nasihat agama dan pesan moral yang secara umum ditujukan kepada masyarakat. Jadi, tetap saja puisi Aceh mendapat tempat di hati masyarakat Aceh meski hanya sekelompok seniman yang bisa meramu kata-kata dalam karya sastra tersebut.

Kedua, puisi mbeling mungkin bertolak belakang dengan budaya dan kearifan lokal Aceh. Seperti yang kita ketahui bahwa  mbeling merupakan salah satu bentuk sastra perlawanan terhadap struktur persajakan dan kosakata, maka genre puisi perlawanan tersebut juga memberikan ruang yang sebebas-bebasnya terhadap unsur pembangun luar  baik dalam pemahaman ideologi, sistem sosiokultural, maupun nilai-nilai yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat.  Dikhawatirkan jika puisi mbeling dikolaborasi dengan  kesusastraan lokal akan bertentangan dengan  kesantunan dan nilai-nilai agama. Hal tersebut sebetulnya  hanyalah kecemasan berlebihan sekelompok golongan terhadap nasib  sastra leluhur. Padahal, jauh dalam lubuk hati mereka memendam kecemburuan ekonomis dan nasib popularitas mereka di mata masyarakat ke depan.

Kita memang tak ingin jika kebudayaan luar dapat merusak sistem sosiokultural daerah kita dalam segala hal. Namun, bukan berarti pula mbeling secara konkret akan merombak secara keseluruhan kesusastraan Aceh. Setidaknya keberadaan mbeling  menjadi inspirasi bagi kesusastraan Aceh untuk dapat mengembangkan  kreasi baru secara vertikal dari jalur genre sastra yang sudah ada.

Ketiga, puisi mbeling akan dianggap menjadi sebuah petaka bagi  penyair Aceh yang bertengger di atas menara gading. Saat ini dapat kita lihat bagaimana puisi konvensional yang bertabur bahasa metafora telah mengangkat derajat kemuliaan segelintir sastrawan Aceh. Memang di suatu masa mereka berkoar-koar tentang perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah, namun ketika masa janji hidup mapan menghampirinya, mereka akan menjadi penjilat. Ya, tentu saja penyair yang menganggap sastra sebagai semata-mata sebagai lahan pekerjaan  akan menganggap mbeling sebagai “parasit”. Tak ayal pula untuk mengantisipasi hal ini mereka berusaha menyakinkan orang-orang bahwa mbeling telah menyalahi konsep kebakuan karena definisi puisi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1997: 106) adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, penyusunan larik dan bait’. Landasan itu diperkuat lagi oleh Owen Baffielt dalam bukunya Poetic Diction: a Study in Meaning (1987: 41) yang menyatakan bahwa puisi memiliki tradisi untuk menampilkan hal yang bersifat luhur yang terkandung di balik makna yang tersimpan pada berbagai struktur metafora  dan diksi puisi.

Jadi, mereka mempunyai alasan yang kuat bahwa mbeling tak lebih dari olok-olok sindiran yang terhimpun dalam kumpulan anekdot. Padahal Remy Slyado dengan tegas menyatakan  dalam sebuah esainya di Majalah Aktuil bahwa sejak awal mbeling adalah puisi tandingan. Menurut dia, puisi-puisi kaum tua sudah mati. Puisi tak perlu dianggap mulia lagi, sebab banyaknya penyair-penyair tua yang tak jujur, hilang harga diri, memprotes, meludah tetapi setelah itu menjilat lagi ludahnya.

Terakhir, mbeling terkucilkan dari wadah publik seperti media massa dan penerbit Aceh. Seperti yang kita ketahui bahwa  wadah publik mempunyai pengaruh kuat dalam mengangkat popularitas penyair dan genre sastranya di ke ranah publik. Cemerlang atau redupnya kreativitas sastra juga baik secara komunitas ataupun individual sangat tergantung pada keberpihakan media. Dalam  hal ini pengelola media sangat berperan dalam mengangkat derajat dan nilai karya sastra.

Media menjadi  fasilitator utama yang menjalin hubungan antara penulis beserta karyanya dengan penikmat sastra. Kebanyakan wadah publik di Aceh dalam penerimaan naskah dan proses publikasi sangat terikat dengan persyaratan konvensional. Padahal  hal tersebut dikarenakan media masih takut untuk mengambil risiko apabila mempublikasikan sajak-sajak perlawanan apalagi mbeling merupakan puisi yang dominan berisi pesan-pesan kritis yang kadang-kadang disampaikan dengan bahasa konotatif, kadang-kadang pula disampaikan dengan bahasa lugas dan terbuka.

Hendra Kasmi, guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA IT Al Fityan, Kabid Kreativitas AGUPENA Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s