Kanji, Tradisi Berbagi di Aceh

Posted on

oleh Edi Miswar Mustafa

[The Atjeh Post, 30 Juli 2012]

Kulitnya hitam legam. Pandang mata yang sayu itu pun kembali mengarah ke kuali raksasa di depannya. Hawa panas berujud asap mengepul dari dalam kuali di Sabtu, 28 Juli 2012 itu.

”Ini baru diisi beras. Empat bambu,” kata Syarifuddin, 54 tahun. Ia memang dikenal sebagai sosok bilal yang tidak banyak bicara.

Satu hari masak kanji menghabiskan kurang lebih uang Rp300 ribu. Untuk kelapa, biasanya tiap-tiap meunasah memiliki kebun meunasah. Dari sanalah bahan untuk santan tersedia tanpa perlu dibayar. Bumbu kanji lain harus dibeli.

Jam menunjuk angka 14.56 WIB. Sejak pukul 14.00 WIB, beras itu direbus. Sesekali ia mengaduk dengan pengayuh besar. Kali lain, ia memperbaiki letak kayu bakar yang bergeser di tungku. ”Sebentar lagi dimasukkan bumbu,”ujarnya.

Ia mengatakan, jam tiga dimasukkan bumbu pertama, kemudian setengah empat untuk bumbu kedua. Jam empat baru dimasukkan santan. Setelah itu, jam lima, kanji sudah masak.

Laki-laki kelahiran Neusu, Banda Aceh, tersebut menambahkan, gampong mereka ada sekitar 200 rumah dan sekitar 300 kepala keluarga. Setiap sore, kata Teungku Bilal itu, hampir tiap rumah atau setiap kepala keluarga menunggu pembagian kanji.

Biasanya, di tiap-tiap kampung di Aceh, jelang bulan puasa, masyarakat mengadakan rapat. Malam rapat itu pun segera ada yang menyumbang. Intinya, sumbangan sedekah dan semampu si penyumbang. Kemudian, seiring hari berjalan, bilal meunasah atau orang yang dipercayakan imum meunasah mengunjungi semua rumah.

“Ada yang menyumbang Rp50 ribu, Rp100 ribu, bahkan sampai Rp500 ribu. Di papan pengumuman meunasah, nama-nama penyumbang itu tertera rapi dengan nama asli maupun dengan nama hamba Allah,” katanya.

Sudah empat puasa tradisi itu berlangsung. “Berarti empat tahun semenjak saya menjadi bilal,” ungkap laki-laki kecil yang biasa disapa Bang Din Mini.

Nama kampung tersebut Teupin Pukat, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Kartini, 50, sang istri, sedang meremas kukuran kelapa untuk mendapatkan santan. Sementara itu Kasma, 54, janda dari Bilal Yusri ¾ bilal sebelumnya, membuka karung untuk diisikan sepah daging kelapa usah diremas Kartini.

”Kami dibayar 400 beras bambu sebulan,” ujar Kartini.[]

One thought on “Kanji, Tradisi Berbagi di Aceh

    siscaamellya said:
    Juli 30, 2012 pukul 6:48 am

    Bersama Gorengan dan camilan ane nobatkan agan ini sebagai Penulis.. Heheheh.. Mau?? Mau??😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s