Persembahan untuk Emak

Posted on

cerpen: Nurfitriani

Malam begitu gelap saat semua mata mulai terlelap. Wanita tua renta masih saja memainkan tangannya dengan sanggat mahir. Mak minah tetap tidak menutup matanya tuk kesekian kali walau pun sudah tak terhitung berapa kali mulut itu menguap. Terus dan terus tangan mungil itu merajut beberapa topi yang akan dijualnya dikota kecamatan.

Setiap hari hal yang sama dilakukan oleh wanita berwajah gelap, bertubuh agak berisi itu. sesekali mata itu melirik Ahmat yang tertidur disampingnya. Anak berumur tujuh tahun yang dilahirkan olehnya tujuh tahun lalu. Babah Ilyas meninggal ketika Ahmat berumur tiga tahun, kini Mak Minah hidup hanya ditemani oleh Ahmat anak semata wayangnya. .

Semakin hari semakin keriput wajah itu, saat mulai terdapat garis-garis halus dikening dan selurah wajah wanita tua renta. Tubuhnya sudah sangat lelah ntuk menanggung semuanya sendirian. Tapi tak sekalipun Mak Minah menampakkan hal itu dan tidak sekalipun ia mengeluh. Bocah nakal itu tak sedikitpun mengerti tentang kerja keras Emak untuk mengantarkan dia ke kehidupan yang lebih menjanjikan.

Hari ini genap sepuluh tahun usia Ahmat, ia telah kelas lima sekolah dasar. Walaupun bocah itu nakal tapi kecerdasan mulai terlihat pada anak semata wayang Emak. Ahmat anak yang cukup pandai hanya saja ketidak lengkapan dan kurangnya kasih sayang membuatnya membantah Emak setiap harinya. Bukan Emak tidak menyayang  Ahmat, hanya saja terlalu sayangnya Emak terhadap Ahmat sehingga tidak henti-hentinya ia menguras keringat untuk anak semata wayangnya yang telah Allah titipkan untuknya. Ahmat merindukan kebersamaan dalam keluarga kecilnya.

“Ahmat, belajarlah sungguh-sungguh nak, agar engkau tidak seperti Emakmu yang bodoh ini, engkau harus jadi anak yang pandai nak” begitulah kata-kata yang selalu terdengar dari rumah papan kecil yang beralaskan tikar anyaman Emak. Perkampungan yang sangat jauh dari sudut kota.

Burung-burung mulai bernyayi bagai orkestra diangkasa, matahari mulai mengintip dibalik celah-celah pergunungan hijau yang sangat mempesona. Kali ini Emak membangunkan Ahmat sangat pagi-pagi sekali entah apa yang akan di lakukan Emak. Emak harus mengantarkan semua pesanan topi rajutnya dikota kecamatan. Ahmat harus segera dibangunkan kalau tidak dia akan bolos dengan alasan ketiduran.

Desa yang sangat jauh dari semua fenomena metropolitan. Hanya menggarap padi dan berkebun penghasilan yang selalu dibanggakan warga desa. Tapi sayang untuk tahun ini warga harus bersabar karena curah hujan yang terlalu banyak membuat panen tahun ini gagal total. Emak cukup bersabar dalam semua hal yang menimpa dirinya. Emak hanya mempunyai sepetak tanah yang telah bertahun tahun menghidupinya. Tanah yang dijadikan Emak untuk menanam padi setiap tahunya. Itupun satu-satunya harta yang dititipkan Babah saat beliau masih hidup.

Emak mulai menggarap lahannya lagi untuk tahun ini. Ahmat cukup membantu kali ini. Perubahan drastis terjadi pada singgung nakal itu. Waktu membuatnya mengerti tentang betapa Emak menyayanginya, berawal pada saat dia akan dikeluarkan dari sekolah karena tidak membayar uang spp.

Emak merajut topi sampai pagi, pekerjaan itu terus yang dilakukan Emak hanya agar Ahmat tidak dikelurkan dari sekolah, Emak mencari bantuan kesana kesini tapi sayang masyarakat sudah cukup menderita dengan hidupnya masing-masing, jangankan memberi untuk Emak pinjam tapi untuk diri mereka sendiri mereka harus menelan setiap tetes keringat. Dengan berbekal kerja keras Emak, akhirnya Ahmat diijinkan lagi untuk menikmati dunia pendidikan.

Januari genap Ahmat berusia empat belas tahun, usia yang membuat dia harus beranjak kejenjang pendidikan selanjutnya. SMA hanya ada dikota kecamata, berarti Emak harus mengguras keringatnya lebih dalam, memberi jajan dan biaya angkuta umum. Tapi hal itu tidak membuat emak berkata ”kamu harus putus sekolah,” tapi emak berkata ”lanjutkan nak Emak akan bekerja keras untukmu.”

Ujian akhir nasional berakhir, nilai Amat cukup membuat Emak meneteskan air mata saat kepala sekolah mengatakan “Ahmat nilai kamu terbaik, dan kamu dapat beasiswa keluar negeri.” Air mata bahagia menetes deras dari kornea mata Emak, Emak tidak membayangkan anak nakal yang selalu membuat Emak kesal sekarang talah membahagiakan Emaknya dan seisi kampung.

Ahmat pun berkuliah di  Austaralia, dua tahun dia menyelesaikan studinya di Austaralia, kini dia lulus dengan kunlout, hadiah terindah dipersembahkan lagi untuk Emak, Ahmat akan segera melanjutkan S3 nya di Amsterdam  lulusan terbaik itu kini melanjutkan kuliah lagi untuk memperoleh gelar doktornya.

Ahmat pulang dengan mempersmbahkan tiket haji untuk dia dan Emak, Emak sangat menginginkan untuk dapat mencium ka’bah dan melempar jumrah serta ingin berlari-lari disekitar safa dan marwah. Persembahan terindah untuk emak dipersembahkan oleh anak yang dibesarkan seorang diri. Emak telah berhasil membuat perubahan kecil dikampung tercinta dengan membuat sekolah untuk anak-anak kampung yang tidak mempunyai dana untuk menuntut ilmu. Emak dan Ahmatlah yang telah membangun kampung mati tampa masa depan itu.

“kita akan berangkat haji Emak, hadiah terindah yang selalu emak inginkan selama ini” kata-kata itu yang keluar dari bibir Ahmat. Emak terdiam sambil memandang tiket yang dipersembahkan untuknya, sesaat suasana hening, air mata pun menetes, pelukan cinta dari Emak untuk Ahmat berjalan lama Emak pun terlelap dengan senyuman terindahnya dalam pelukan Ahmat. Ternyata Emak tersenyum bersama malaikat-malaikat syurga yang menjemputnya.  Selamat jalan Emak, kado terindah telah kupersembahkan untukmu.

Mahasiswa PBSI 2011,  reg A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s