‘Guree’ Acuh

Posted on

Oleh Azwardi

sumber:serambi indonesia, 5 desember

MASIH terngiang-ngiang dalam ingatan kita tentang peringkat korupsi Aceh yang berada di urutan 2, kini berita miris kembali menerpa Aceh. Kali ini, tamparan berat menimpa para guru di Aceh. Betapa tidak, berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) Aceh dikabarkan bahwa kualitas gurunya berada pada peringkat 28 Nasional. Hal tersebut berbanding lurus dengan kemampuan anak asuhannya, di mana lulusan SMA/SMK/MA menembus PTN bertengger pada urutan 31 untuk jurusan IPA dan 25 untuk jurusan IPS (Serambi, 17/10/2012). 

Berdasarkan data yang terimput selama saya terlibat dalam panitia dan fasilitator sertifikasi di Rayon 1 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sejak 2007 ditambah beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh teman-teman di FKIP Unsyiah, antara lain menyebutkan bahwa standar kualitas guru kita sudah stagnan di standar kualitas minimal. Tahun 2012, nilai Uji Kemampuan Awal (UKA) calon peserta Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) rata-rata 30. Lebih 3.000 guru terdepak dari rekrutmen calon peserta PLPG tersebut karena nilainya di bawah 30 (data Konsorsium Sertifikasi Guru Kemdikbud, Jakarta 2012).

Mereka yang lolos ke PLPG selanjutnya memperoleh pelatihan selama sembilan hari ful. Selama sembilan hari itu mereka didril berbagai kompetensi yang berkaitan dengan guru profesional. Mereka memperoleh up-dating dan up-grading wawasan kependidikan dan keguruan dari para ahli. Mulai dari workshop penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sampai dengan peerteaching (praktik mengajar) terus di-review dan dievaluasi oleh para profesor, doktor, dan master silih berganti. Celakanya, ketika diuji kemampuan akhirnya, nilai mereka juga belum bergerak dari UKA. Panitia harus memanggil peserta sampai tiga kali untuk mengikuti ulang ujian akhir.

 Potret buram guru
Ini sebuah potret buram guru yang sedang berupaya meraih sertifikat pendidik untuk dapat disebut guru profesional. Meskipun demikian, kepada mereka ini tidak begitu urgen untuk dipersoalkan berlebihan karena mereka ini belum menikmati manisnya tunjangan sertifikasi guru yang besarnya sangat fantastis itu. Tapi yang patut dipermasalahkan adalah para guru yang telah dijustifikasi dan dinyatakan sebagai guru profesional yang ketika di-UKG-kan justru terindikasi tidak profesional. Kucuran anggaran pendidikan Aceh hampir sebesar Rp 1 triliun per tahun terlalu mahal untuk urutan prestasi 28 Nasional.

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan berkaitan dengan dampak sertifikasi guru, perlu juga saya kemukakan bahwa meskipun telah ditambahkan pendapatannya dengan sangat signifikan setiap bulan, minat guru dalam meng-up date dan meng-up grade kompetensinya masih relatif rendah. Mereka enggan mengalokasikan sebagian dari tunjangannya itu untuk pengadaan berbagai sarana penunjang dan referensi yang berkaitan dengan pengembangan profesinya. Sedikit sekali guru yang tertarik memiliki komputer/notbook/laptop, padahal mereka berkewajiban memanfaatkan teknologi informasi (TI) untuk menunjuang perencanaan dan pelaksanaan pembelajarannya.

Selain itu, sebagian besar guru juga tidak memiliki akun email, facebook, atau twitter, padahal media-media komunikasi tersebut merupakan wadah sharing berbagai informasi yang secara signifikan akan berdampak pada akselerasi informasi dan memperkaya wawasan. Bagi mereka, ruang akses informasi yang kini kian terbuka lebar tersebut menjadi sia-sia belaka. Tidak ada peningkatan minat beli buku, minat beli komputer/notbook/laptop, minat baca buku, dan searching berbagai informasi di dunia maya.

Buktinya, mereka tetap tidak berkarya ilmiah. Bahkan, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang saban hari mengajar keterampilan menulis pun, misalnya, tetap sedikit sekali yang berkarya tulis. Bukankah memiliki karya tulis berkorelasi dengan minat baca, minat baca berkorelasi dengan minat beli buku, minat beli buku berkorelasi dengan semangat profesionalme. Semangat inilah yang sampai kini belum mekar meskipun sudah tergolong ke dalam barisan guru profesional atau guru bersertifikat.

Di sisi lain, meskipun sudah ditambah pendapatannya secara signifikan setiap bulan, mereka tetap berotasi pada kebiasaan-kebiasaan lama; mencari tambahan atau mencari komisi, seperti membuat kue untuk dititip jual di kantin sekolah/warung, nyambi bersawah di sela-sela jam kerja, menjadi makelar, agen tanah atau kendaraan bermotor. Waktu luang tidak dimanfaatkan untuk membaca berbagai literasi, memperluas wawasan, dan mempertajam kajian. Makanya, sangat jarang ditemukan guru yang memiliki perpustakaan pribadi yang mengoleksi berbagai referensi, khususnya yang berkaitan dengan profesinya, seperti kependidikan, keguruan, kebahasaan, kesastraan, serta keagamaan dan umum, padahal ini menjadi salah satu indikator bahwa yang bersangkutan adalah guru profesional.

 Guru profesional
Solusi yang harus dilakukan agar guru yang telah dinyatakan sebagai guru profesional menjadi benar-benar profesional, antara lain, adalah sebagai berikut: Pertama, guru tertarik membangun perpustakaan mini di rumahnya. Setiap bulan guru rela menyisihkan minimal 10% dari penghasilannya untuk membeli masing-masing satu buku yang berhubungan dengan empat kompetensi (misalnya, satu buku yang berkaitan dengan kependidikan, satu buku yang berkaitan dengan keguruan (kompetensi pedagogik), satu buku yang berkaitan dengan bidang studi (kompetensi profesional), dan satu buku yang berkaitan dengan bidang keagamaan/sosial/umum (kompetensi kepribadian dan sosial);

Kedua, guru mau mengalokasikan anggaran belanjanya untuk pengadaan perangkat IT, seperti komputer/notbook/laptop beserta beberapa program aplikasi yang umum digunakan sebagai penunjang dalam aktifitas pekerjaannya; Ketiga, guru peduli terhadap peningkatan kualifikasi akademik dan pembaruan pedagogik melalui berbagai workshop serta mengaktifkan diri dalam berbagai organisasi profesi terkait, seperti KKG dan MGMP, dan;

Keempat, Pemerintan Aceh perlu membangun sebuah training center khusus untuk melatih guru secara kontinu, berkelanjutan sepanjang masa. Guru, pengawas, kepala sekolah, dan instruktur pada setiap level satuan pendidikan dipanggil secara estafet terus-menerus berulang-ulang silih berganti diberikan kesempatan untuk mengikuti seminar, lokakarya, pelatihan, dan workshop. Hal ini sangat mungkin dilakukan, seperti yang telah direncanakan Anas M Adam (Serambi, 29/11/2012).

Program sertifikasi guru yang sedang digulirkan pemerintah telah membuat para guru bersertifikat tersenyum bahagia. Mereka telah memperoleh tunjangan yang sangat signifikan; penambahan pendapatan sebesar satu kali gaji pokok atau 100%. Berkaitan dengan kenyataan ini, calon mahasiswa ramai-ramai memilih atau menambahkan pilihannya menjadi colon guru. Pilihan tersebut juga bukan atas dasar meuheuet, melainkan galak karena yang ditatap bukan aspek dedikasional, melainkan piranti finansial.

* Azwardi, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: azwardani@yahoo.com

One thought on “‘Guree’ Acuh

    Miranda said:
    Desember 13, 2012 pukul 1:18 pm

    Gemasastrin adalah Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia yang memiliki ragam kreatifitas.Gemasastrin juga menjadi rumah seni bagi semua mahasiswa FKIP-PBSI Unsyiah. Di Gemasastrin groups ini, semua keluh tentang kampus, sastra, dan bahasa dapat bersama kita diskusikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s