Kala “Pak Iwan” Bertandang di Gemasastrin

Posted on

“TEKNIK ini bisa juga digunakan untuk kosentrasi,” ujar lelaki berambut putih itu. Di hadapannya ada dua puluhan remaja, laki dan perempuan. Mereka baru saja melakukan duduk bersila mirip orang semedi. Mata tertutup dan tangan di atas paha. Ujung jemari tengah bertemu dengan ujung jempol.

Lelaki berambut putih itu disapa “Pak Iwan” oleh para remaja tersebut. Barangkali karena si lelaki sudah beruban dan lumayan berumur dari parasnya, makanya ia disapa “bapak”.

“Pak Iwan ini dari Bengkel Teater Rendra,” ujar Listia, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala, memperkenalkan lelaki yang mereka sapa “bapak” itu.

Menurut ketua Teater Gemasastrin ini, Pak Iwan sudah tiga hari di Aceh. Kedatangan Pak Iwan beserta rombongan Ken Zuraida, istri sastrawan WS Rendra, yang kebetulan sedang ada program workshop teater di Aceh. Workshop tersebut berlangsung di Rumoh Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh.

“Beberapa di antara kami dari Teater Gemasastrin ikut juga dalam workshop itu,” kata Tia, sapaan akrab Listia.

Adapun bincang-bincang petang Jumat (7 Desember 2012) di belakang Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah Darussalam itu, kata Tia, di luar jadwal workshop. Tia sengaja berinisiatif mengajak Pak Iwan berbagi ilmu dan pengalaman berteater dengan mahasiswa Gemasastrin.

“Tapi, yang kumpul di sini sekarang bukan cuma dari Gemasastrin, ada juga kawan-kawan dari Teater Nol Unsyiah dan Teater Rongsokan IAIN,” kata Tia lagi.

Pak Iwan sendiri datang ke belakang AAC itu dijemput oleh salah satu mahasiswa Gemasastrin. Pulangnya juga diantar kembali dengan sepeda motor. Ketika ditawarkan untuk berbagi pengalaman dengan mahasiswa, kata Tia, Pak Iwan menyambut ajakan tersebut dengan semangat. Mereka diskusi dan berlatih sejak pukul 15.00 sampai pukul 18.10.

“Ini hanya kenang-kenangan dari kami Teater Gemasastrin,” ucap Tia di akhir pertemuan dengan aktor Bengkel Teater Rendra itu. Sontak para mahasiswa itu bersorak, “Buka..buka..buka..”

Bingkisan mungil itu pun dibuka oleh Pak Iwan. Tampaklah sebuah plakat rencong Aceh. “Wah, saya senang sekali. Ini sangat luar biasa. Ada tulisannya, masih ejaan lama, ATJEH,” ujar Pak Iwan semangat.[Herman]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s