Pustakaku Bising

Posted on Updated on

Oleh Alhusni Aris

husniSAAT ini perpustakaan merupakan alat untuk menggapai peradaban yang cemerlang di masa depan. Pustaka menjadi tempat anak-anak bangsa belajar, berlatih, berpikir, berkreasi, serta hal-hal yang lain yang dapat menyokong kehidupan manusia ke arah yang lebih baik dan berguna. Banyak hal yang dapat diperoleh dari sebuah pustaka. Ada kalanya disebabkan oleh pustaka sebuah negara dapat berkembang, dapat terkenal, bahkan menjadi kiblat bagi negara yang lain. Mengapa pustaka dapat mewujudkan hal-hal yang demikian? Salah satu jawabannya, karena di dalam pustaka terdapat banyak buku yang bisa dipelajari serta mampu mencerdaskan semua anak bangsa. Dengan membaca maka manusia akan hidup dan berguna.

Pada zaman sekarang ini, yang semakin mengglobal dan modern, pustaka masih tidak terlupakan. Keeksistensian pustaka masih berada di puncak, jika melihat kebutuhan publilk saat ini. Meskipun sekarang banyak media yang akurat, cepat dan mudah didapat, katakan saja seperti internet, sebuah media online yang darinya dapat diakses semua informasi dengan cepat dan mudah, namun tetap tidak menyurutkan peran pustaka sebagai media untuk menimba ilmu. Jadi, pustaka merupakan sumber yang dapat mencerdaskan masyarakat sehingga masyarakat itu mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan peran dan fungsinya. Begitulah besarnya peran pustaka bagi masyarakat. Tetapi, jika masyarakat tidak mahir memanfaatkan keberadaan pustaka, apa jadinya? Jawaban itu tentu dapat kita jawab dalam hati masing-masing. Kemudian pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan perpustakaan di Aceh ini? Bagaimana sikap masyarakat Aceh tehadap perpustakaan?

Di Aceh, ada beberapa perpustakaan yang bangunanya bisa dikatakan bagai istana megah. Mengapa megah? Jelas, pustaka di Aceh dengan kelengkapan unsur-unsurnya mulai dari ruang full-AC, rak buku yang teratur, buku yang beragam, ruang-ruang yang terbagi (ruang dewasa, ruang remaja), meja yang besar lagi lembut, kursi empuk yang membuat nyaman orang yang mendudukinya, lampu cerah menerangi ruang baca, serta yang lainnya, sehingga dapat dikategorikan pustaka itu bagai istana. Dan, masih banyak lagi kelengkapan yang ada pada pustaka-pustaka di Aceh, yang dalam kesempatan ini tidak dapat dirincikan secara jelas. Selanjutnya, yang manakah perpustakaan bagai istana yang dimaksud? Sebut saja Puswil (Pustaka Wilayah)  yang baru-baru ini menggunakan slogan “Bertekad Mewujudkan Aceh membaca, Aceh Berjaya, dan Melestarikan Arsip” tersebut yang merupakan penyokong bagi masyarakat terutama pelajar, baik yang masih berada pada tingkat satuan pendidikan maupun mahasiswa yang berada pada perguruan tinggi.

Puswil adalah pustaka yang setiap harinya ramai dikunjungi. Mayoritas pengunjung di Puswil adalah mahasiswa, bukan pelajar yang masih berada pada tingkat satuan pendidikan (SD, SMP, dan SMA), mungkin dikarenakan setiap sekolah rata-rata sudah menyediakan buku paket untuk dipelajari oleh siswa-siswanya.

Keberlangsungan perkuliahan mahasiswa salah satunya ditentukan oleh pustaka (Puswil). Puswil sudah seperti ibu bagi kalangan mahasiswa. Ketika mahasiswa menerima proyek dari dosennya, pasti sang mahasiswa merengek-rengek kepada Puswil, dalam artian, Puswil menjadi penolong bagi mereka dalam menyelesaikan proyek-proyekn tersebut. Tetapi, ternyata Puswil tidak memiliki satu peran saja, melainkan memiliki peran ganda, tidak hanya sebagai tempat mahasiswa mengadu (menyelesaikan tugas-tugas/menimba ilmu), tetapi juga tempat mahasiswa tertawa-tawa dan bercanda.

Pada hari Selasa, 13 November 2012, saya pergi ke Puswil, teringin membaca-baca buku di sana. Ketika berada di ruang baca, lirik-lirik yang tak asyik, dan pandangan yang tak menyenangkan yang kualami. Mengapa demikian, karena disebahkan oleh ulah mahasiswa yang ada di dalamnya. Mereka tertawa-tawa, bercanda, dan saling ngobrol dengan teman-teman di sebelahnya. Ruang baca terdengar sangat bising, seperti suara lebah yang hendak menikam mangsanya. Dan ini yang melakukan adalah mahasiswa. Bolehlah, jika ruang baca seperti bersuara lebah itu dikarenakan orang-orang yang di dalamnya komat-kamit membaca buku, itu tidak mengapa. Tetapi sebaliknya, bising disebabkan kurangnya sikap positif dan kesadaran diri dari kalangan mahasiswa. Memang, tentu tidak semua mahasiswa yang melakukan hal seperti itu. Ada juga mahasiswa yang teguh memegang nilai-nilai positif yang terus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal ini tidak ribut ketika berada di ruang baca.

Kemudian, yang sungguh disayangkan lagi adalah petugas di dalam ruangan itu sendiri. Bukan maksud untuk ngata-ngatain, tetapi ini fakta, petugas tersebut tidak bertindak apa-apa, menegur atau sebagainya yang bertujuan untuk menenangkan kebisingan di ruang tersebut. Malahan, pada hari Selasa, 6 November 2012, tepatnya seminggu yang lalu (waktu saya pada saat itu), melihat pemandangan yang membuatku merapat kuat geraham dan menggigit-gigit gigi sendiri sebagai luapan kesalku. Di hadapanku para petugasnya sendiri yang tertawa-tawa, berbicara besar-besar dengan petugas yang lain, yang memang dapat mengganggu keheningan bagaimana semestinya suasana hening dalam pustaka (ruang baca). Ini jelas suatu sikap yang sangat tidak arif. Jika sikap yang seperti ini terus diadopsi oleh mahasiswa dan juga petugas pustaka, maka siap-siap sajalah kita ini, rakyat Aceh, memikul dan menerima terkucilkannya kita pada masa sekarang bahkan di masa yang akan datang. Dan, jangan mengira bahwa yang demikian tidak mungkin kita alami, pada zaman berkembang ini. Disebabkan rendahnya moral dan minimnya orang cerdas di tanah Aceh tentu akan sangat memudahkan sebuah ketertinggalan dikantongi oleh rakyat Aceh.

Sebagai sarana untuk berkontemplasi saja, pendidikan di Provinsi Aceh berada pada peringkat ke-16 se-Indonesia (Serambi Indonesia, 29 Juli 2012). Bahkan saya juga mendengar baru-baru ini dari beberapa dosen saya, ada yang mengatakan Provinsi Aceh berada pada peringkat ke-31 dari 33 provinsi di Indonesia, dan ada yang satunya lagi mengatakan bahwa provinsi Aceh berada pada peringkat ke-28 dari 33 provinsi (peringkat guru). Peringkat mana yang sebenarnya akurat, tepat, dan jelas, tidak perlu dipersolakan. sekalipun kita berada pada peringkat ke-16, bukanlah hal yang sangat membanggakan, menurutku. Tetapi, yang menjadi persoalan bagaimana kita dapat meningkatkan peringkat serta mengubah sikap-sikap yang tidak baik, sehingga pada waktunya Aceh menjadi kiblat provinsi-provinsi di Indonenesia ini. Bukan sesuatu yang mustahil menurutku, jika kita tetap berjalan pada alur yang benar.

Jadi, sebagai harapan kita bersama untuk lebih maju, salah satunya, ya, dengan cara mari kita jadikan pustaka-pustaka yang ada di Aceh ini sebagai tempat di mana kita benar-benar ingin menjadi cerdas dan memiliki prilaku yang arif. Bukan waktunya lagi untuk bersenda gurau yang tak tentu. Ini era yang kompetitif. Jika suatu daerah tak mampu menyesuaikan diri, maka akan tersingkirkan (tidak diperhatikan). Nauzubillahiminzalik.

Selanjutnya, kepada pengurus pustaka-pustaka yang ada di Aceh ini, jalankanlah peran Anda sebagaimana mestinya. Butlah pustaka itu menjadi tempat yang selalu dirindukan oleh pembaca. Bukannya menjadikan pustaka terasa seperti di pasar baju. Dan, sikap selanjutnya yang dapat direalisasikan oleh pihak-pihak pengurus pustaka, mungkin dapat menempelkan selebaran di dinding dengan menghimbau kepada pengunjung untuk diam dan tidak rebut ketika berada di dalam ruang.

Alhusni Aris, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah

One thought on “Pustakaku Bising

    jtxtop said:
    Januari 19, 2013 pukul 11:29 am

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s