Potret Tua

Posted on

Cerpen Hendra Kasmi | Atjeh Post, 19 Januari 2013

potretKETIKA senja baru saja terlihat di langit barat, perlahan-perlahan desahan kecil Alaida berubah menjadi lenguhan panjang. Tak berapa lama rumah dari mana suara raungan itu berasal pun menjadi ramai. Ibu-ibu tetangga masuk ke dalam rumah panggung itu, sedangkan warga laki-laki banyak yang berjaga-jaga di luar.

Keriuhan berpadu dengan dendang jangkrik dalam semak-semak di kaki bukit. Sampai mentari betul-betul lenyap dari rerimbunan pohon meranti di puncak bukit Barisan, jeritan gadis itu belum juga berhenti, bahkan semakin keras dari sebelumnya. Pasti para lelaki pukimak itu kembali bertandang ke kampung kami. Aku berharap agar mereka tak selarut seperti malam kemarin, sebab akan menyusahkan warga seisi kampung ini.

Menjelang Isya suara-suara di seberang kian gaduh. Orang-orang semakin ramai berdatangan. Kulihat dari celah, cahaya obor seperti menjilat-jilat bubung rumah Alaida, asapnya  terlihat mengepul dalam pekat malam.

Suara berisik kudengar dari arah halaman balee, kian dekat ketika aku baru saja mensurah Kitab Muntashar di hadapan murid-muridku. Tak berapa lama pintu balee diketuk. Aku segera keluar.

Temaram lampu beranda  hanya mampu meruapkan sesosok tubuh kurus itu. Untuk ketiga kalinya, Munir,  sepupu Alaida bertandang lagi ke tempat ini. Haji Maun begitu menaruh harap, sampai-sampai beliau mengutus seseorang. Beliau yakin dengan doa-doa mujarab yang kubacakan akan mampu mengusir makhluk-makhluk laknat itu, walau hanya sejenak.

Sebenarnya tanpa dijemput pun aku pasti akan bertandang ke rumahnya lepas salat Isya karena  aku harus membimbing murid-murid pengajianku dulu. Hubungan aku dengan keluarga Haji Maun sangat akrab karena tempat pengajianku hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Haji Maun.

Jika terjadi suatu hal, akulah yang lebih dulu beliau minta tolong atau sebaliknya. Alaida, anak perempuan semata wayang Haji Maun sudah kuanggap sebagai adik perempuanku sendiri.

Bahkan Haji Maun, pernah mengutarakan niatnya menjodohkanku dengan Alaida. Aku hanya tersenyum geli saat mendengar keputusan paling serius yang keluar lewat bibir legam lelaki keriput itu saat itu.

Aku hanya menolak halus tawaran Haji Maun. Sebenarnya apa sih yang kurang dari Alaida, ia punya  mata yang lentik, berwajah oval dan berkulit kuning langsat. Satu lagi ia punya sepasang hidung mancung yang bagiku  begitu menggoda. Konon katanya, leluhurnya berasal dari tanah jazirah Arab.

Uang? Apa kurangnya Haji Maun, ia pemilik kebun getah di pinggiran Bukit Barisan. Ia mengupah begitu banyak pekerja untuk menakik getah kebunnya. Ah, kubayangkan andai saja Alaida kumiliki, maka hidupku akan bergelimang uang. Jangan heran, tetangga-tetangga, kerabat-kerabatku menganggap  aku sinting. Mereka sangat menyesalkan keputusanku itu.

Sebetulnya mereka keliru, bukan aku yang menolak tapi mendiang ayahku. Kuceritakan sedikit kejadian di rumah sakit setahun lalu ketika menjenguk ayah yang menderita radang paru-paru. Sudah lama beliau tinggal di rumah kakakku di ibu kota provinsi.

Alangkah terkejutnya beliau ketika kuberi gambaran tempat kampung kaki Bukit Barisan itu. Aku merasa tak nyaman ketika kulihat kening beliau berkerut, pertanda kurang senang. Oh, hatiku seperti diiris belati saat beliau berwasiat; jangan mendekati keluarga Alaida, leluhurnya adalah keturunan pembawa sial, karena merekalah keluarga kita jatuh miskin.  Kakeknya penghasut warga untuk mengucilkan kita!

Aku diam seribu bahasa. Tak mengangguk. Tak pula menggeleng. Sejak saat itu baru aku tahu bahwa ayah punya kemelut dengan warga di kampung ini – padahal ayah berasa dari kampung yang bersebelahan dengan kampung Alaida.

Tapi mengapa ayah begitu geram kepada mereka? Pertanyaan itu kupendam saja. Tak mungkin kuungkapkan ketika beliau tergelatak setengah sekarat. Bahkan,  rahasia itu terpendam rapat sampai beliau tutup usia. Anggaplah itu sebagai kemelut leluhur kami yang terkubur seiring kepergian mereka.

Bagaimanapun hubunganku dengan keluarga Alaida tetap akur , bahkan aku tak keberatan ketika mereka meminta pertolonganku.

“Apalagi yang mereka minta?” ujarku pada Munir

“Kanduri, untuk arwah leluhur”

“Buatkan saja apa susahnya”

“Tolonglah Teungku, usir mereka untuk terakhir kalinya!”

Aku menghela nafas panjang. Lelaki-lelaki buduk itu selalu saja mempermainkan martabat kami. Kemarin, salah seorang dari mereka meminta dipertemukan dengan orang tuanya. Kuturuti permintaan mereka walau aku tak yakin bahwa yang berbicara itu betul-betul dirinya. Tapi kuturuti saja, agar buduk-buduk itu lekas lenyap dari rumah Alaida untuk selama-lamanya. Dan mereka berjanji dengan sepenuh hati.

Munir adalah seorang yang sangat penurut. Tak bisa kubayangkan kalau malam ini ia menyiram air sembilan pada tubuh Alaida layaknya orang mati, buduk-buduk akan pergi dengan riang sementara Alaida menggelapar-gelapar seperti orang sekarat.

Yang tak habis aku pikir kenapa selalu Alaida yang menjadi sasaran empuk mereka.  Apa istimewanya Alaida bagi mereka. Kasihan dia, tubuh mungil itu sangat menderita  ditindih beberapa jiwa lelaki penasaran.

Bahkan dari pembicaraan kemarin yang kudengar dari buduk-buduk itu, mereka berjumlah dua orang dan akan semakin banyak yang datang bila permintaan mereka tidak dipenuhi.

RONA wajah perempuan itu memerah, sepasang bola matanya yang dulu bening, kini hanya terlihat warna putihnya saja.  Pasi. Mata yang tak lagi dihuni oleh jiwa yang sempurna terbelalak menantangku.

Buru-buru kupegang urat nadi di pergelangan tangannya lalu menguncinya dengan sigap. Ia meronta, kakinya menendang perutku, hampir saja aku rubuh mencium papan. Suasana kian tegang.

Haji Maun yang duduk bersila di pojok jendela tampak murung. Tak seorang pun yang bercakap. Hanya beberapa ibu yang menjerit histeris saat aku hampir terjungkang. Selebihnya hening. Bahkan suara binatang malam yang biasanya ikut berdendang juga senyap.

“Apa tak cukup kau mempermainkan kami makhluk buduk. Segera enyahlah kau dari sini! Kalau tidak aku akan menyurah Yasin semalam suntuk di sini!” Kupelototi mata itu dengan  geram. Aneh, rona wajah itu merekah. Alaida menatapku lama sekali. Sepasang bibirnya yang biru pasi sempat mengumbar senyum yang dipaksakan, sebuah sindiran barangkali.

Semua orang dalam ruangan itu menyiratkan rasa cemas bercampur geram. Kemenyan yang terletak agak jauh dari kaki terus mengepulkan gegaris-gegaris putih yang membumbung ke atap, sebagian lesap lewat jendela.

Aku kian geram, dengan posisi setengah membungkuk ke arah wajah angker itu. Buduk-buduk itu kembali bersuara seperti  suara parau seorang lelaki tua” Kami tak takut! Kanduri! Buatkan kanduri untuk arwah orang kami!”

“Arwah-arwah di tepi sungai itu sudah lama menghadap Allah sang pencipta, sejak konflik DI/TII berpuluh tahun silam. Kau Setan kan?”

Kepala itu bergerak meronta  tak karuan untuk menunjukkan sikap marahnya, “Buat segera tahlilan, sembelih  ayam-ayam kalau tidak….!”

“Kalau tidak kalian mau apa?”

“Kami akan bersemayam selamanya dalam tubuh Alaida!”

Aku tatap Haji Maun dengan pasrah. Aku yakinkan lelaki tua itu bahwa tak ada pilihan lain. Saya pikir berapalah harga ayam-ayam itu, sungguh tak sebanding dengan  penderitaan Alaida

“Baiklah buduk aku penuhi  permintaanmu, sekarang pergi dan jangan  pernah kembali!” ujarku.

“Usai kanduri, kami akan tenang!” suara serak itu sempat diucapkan sebelum tubuh Alaida bergetar hebat. Sepasang bola mata Alaida kembali bening, rona wajahnya sedikit memerah namun semua orang dalam ruangan itu bernafas lega sembari berharap semoga sesuara serak tadi menjadi akhir kehidupan buduk-buduk itu di kampung ini. Semoga kali ini mereka betul-betul menepati janjinya.

DUA  hari kemudian, Haji Maun dan Alaida berkunjung ke rumahku, menyampaikan rasa terima kasih. Mereka membawa buah-buahan dan madu.

Perbincangan kami yang semula mengalir hangat dan sesekali diiringi senda garau tentang perjodohan aku dan Alaida, lalu menukik tajam, mengarah kepada asal-muasal buduk-buduk yang belum pernah aku dengar. Alaida  lalu bercerita bahwa buduk-buduk sangat licik.

Sama seperti mendiang orang-orang yang katanya darahnya diminum oleh mereka. Berpuluh tahun silam, ketika pemberontakan DI/TII, mereka, mendiang-mendiang itu, menjadikan kampung ini sebagai markas gerombolan. Mereka mengaku simpatisan yang bertugas mengutip pajak.

Katanya untuk perjuangan menegakkan agama. Kakek Alaida atau ayah dari Ibu Alaida adalah seorang imam yang gigih menolak permintaan itu. Ia satu-satunya orang kampung yang mempunyai nyali tinggi. Beliau  tak mau memberi uang sepeser pun di saat lelaki-lelaki gondrong itu menebarkan ketakutan di kampung kami.

Padahal ketika ditelusuri mereka hanyalah oknum yang dipecat dari kesatuannya. Dan mereka mencoba menghidupi diri dengan memeras warga. Komandan Wilayah Distrik pemberontak yang juga kawan karib kakek Alaida yang memberitahukan bahwa mereka tidak terdata dalam kesatuan karena sering membuat ulah.

Warga geram bukan kepalang ketika mengetahui hal itu. Suatu hari ketika mencoba memeras lagi, mereka yang berjumlah empat orang dikejar warga sampai mereka lari ke puncak Bukit Barisan.

Sampai senja, mereka tiba di tebing bukit yang jauh di bawahnya terhampar aliran sungai yang deras dan lahan getah warga. Nyali  mereka menciut ketika jalan buntu, sementara beberapa puluh meter di belakangnya riuh warga  mulai terdengar, memecah senyap bukit.

Dalam detik-detik tragis itu mereka saling bertatapan. Mereka betul-betul tak punya pilihan. Sebelum terjun satu persatu ke bawah bukit, para pengacau sempat menatap sosok kekal berkupiah usang itu. Ya, mereka sangat geram pada sosok pemimpin rombongan yang tak lain adalah kakek Alaida.

“Teungku, aku menemukan potret usang empat orang asing dalam gudang di bawah loteng. Potret  itu sama sekali tak kukenal. Namun mendiang kakek dulu pernah mengatakan bahwa beliau sempat mengambil benda yang terjatuh di tanah sesudah lelaki-lelaki perusuh itu terjun ke sungai!” ujar gadis itu seraya menyodorkan lembaran yang mengabadikan empat orang berambut gondrong, wajah mereka menyimpan senyum.

“Kata kakek lagi tak semua dari mereka mencebur diri ke sungai, satu dari mereka selamat. Beliau sangat berharap  jika menemukan potret ini segera dibakar agar kami tidak celaka!”tambahnya.

Aku menatap lekat lelaki kurus yang berdiri paling kanan di lembaran tua itu. Ia berperawakan paling belia diantara yang lainnya. Rona wajahnya  mengingatkanku pada seseorang yang sangat kucintai. Ya, mirip sekali. Mungkinkah dia orang yang selamat itu? Mungkinkah dia ayahku?

Banda Aceh, Februari 2012

 

*Hendra Kasmi, Alumnus Gemasastrin, FKIP Unsyiah dan pengajar di SMA IT Al Fityan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s