“Negeri dalam Sepatu” di Mata Anak Muda Aceh

Posted on Updated on

oleh Herman RN

RUANG lantai dua ruko di depan Masjid Syuhada Lamgugop itu disesaki puluhan orang. Kebanyakan dari mereka masih sangat belia. Hanya beberapa orang yang sudah usia 30 tahun ke atas. Itu pun tak lebih dari bilangan jemari sebelah tangan. Mereka duduk di atas kursi plastik biru muda. Kursi-kursi itu disusun berbanjar empat ke belakang. Itulah ruang diskusi milik Toko Buku Dokarim, di Lamgugop.

Tiga lelaki dewasa mengambil posisi di barisan paling depan, berhadapan dengan puluhan kursi lainnya. Sudah pasti ketiganya adalah pembiacara dalam diskusi tersebut. Diskusi itu digelar oleh Komunitas Jeuneurob, sebuah perkumpulan remaja yang gemar menulis.

“Menulis adalah pekerjaan individu setiap orang. Namun, menerbitkannya menjadi sebuah buku adalah kerja bersama,” ujar Putra Hidayatullah.

Lelaki asal Sigli yang masih berstatus mahasiswa itu merupakan satu dari sekian anggota Komunitas Jeuneurob. Saat itu ia sedang menyampaikan sepatah dua kata sambutan dalam peluncuran dan bedah antologi cerpen “Negeri dalam Sepatu”. Buku tersebut memuat sejumlah cerpen karangan anggota Komunitas Jeuneurob. Di dalamnya juga termuat beberapa penulis yang masih sekolah menengah atas.

Budi Arianto yang ditunjuk sebagai salah satu pembedah buku itu mengatakan ada banyak tematik yang muncul dalam “Negeri dalam Sepatu”. Namun demikian, ia menyatakan sangat apresiatif atas buku yang “digarap” oleh anak-anak muda dari berbagai latar belakang tersebut.

Sebelum mengulas beberapa cerpen dari buku tersebut, Budi terlebih dahulu membaca cerpen “Ayahku Berkaki Satu” yang diambil dari buku tersebut. Cerpen karangan Ramajani Sinaga itu dibaca oleh Budi dengan penghayatan. Sesekali ia bersuara lantang. Sesekali suaranya pelan dan memelas.

Menurut dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala itu, cerpen Ayahku Berkaki Satu memiliki peluang dijadikan novel. Kata Budi, alur cerpen tersebut masih longgar sehingga ada beberapa tematik tertentu yang sangat memungkinkan dikembangkan menjadi cerita yang panjang.

Hal yang sama diakui Azhari, pembedah lainnya. Sastrawan Aceh ini membahasakannya dengan “fokus cerita”. “Cerpen Ramajani Sinaga yang dibacakan oleh Bang Budi tadi terkesan tidak fokus. Sesekali ia bicara soal kaki ayahnya yang dipotong. Sesekali ia juga menyebutkan soal ibu si tokoh yang disantet. Pada bagian penutup, muncul lagi tematik yang lain sehingga terkesan tidak fokus,” ujarnya.

Kendati sedikit memberikan kritik, Azhari juga menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kemunculan “Negeri dalam Sepatu”. Peraih anugerah sastra Free World Award 2005 dari Belanda itu menuturkan, bagi setiap orang yang sudah mengambil posisi penulis hendaknya mencari ‘lawan’ untuk sparing partner.

“Ibaratnya tukang tinju, kalau pelatihnya bisa diabaikan. Tapi, lawannya di atas ring tetap harus dicari. Kritikus adalah lawan dari para penulis. Maka setiap penulis harus mencari lawan kalau mau memperbaiki karyanya ke depan. Jangan mendengar sedikit kritik lantas berhenti menulis,” kata penulis puisi Ibuku Bersayap Merah itu.

Pembedah lainnya, Taufik Abdullah, lebih menginterpretasikan cerpen-cerpen tersebut dari sudut pandang politik. Baginya, beberapa cerpen dalam buku bersampul hijau itu menyiratkan kondisi politik Aceh masa konflik. Namun, hal itu disatirkan.

“Cerpen Negeri dalam Sepatu, misalnya. Cerpen ini menceritakan tentang raja laba-laba yang dipanuti, dipatuhi, oleh laba-laba lainnya, yang hidup dalam sebuah sepatu. Nah, di Aceh, raja tidak lagi jadi panutan,” papar dosen FISIP Unimal itu.

Negeri dalam Sepatu diangkat dari judul cerpen Zahra Nurul Liza, salah satu penulis dalam buku tersebut. Cerpen-cerpen yang dibukukan oleh penerbit Bandar Publishing itu memang mengangkat banyak tema. Bagi sebagian penulis buku itu, tak penting tematik tertentu. Yang penting, bagaimana menghasilkan karya, ini adalah sebuah cita-cita. Maka, sepantasnyalah mereka diberikan apresiasi. Selamat, Bung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s