Bulan Merindukan Bintang

Posted on

cerpen Qurrata A’yunin

bulanHujan masih belum berhenti membasahi kota ini semalaman.  Ditemani sebuah boneka kecil dia terus menatap  langit hitam yang tak berbintang di balik jendela kamarnya. Entah apa yang dipikirkannya. “Bulan”, suara itu terngiang di telinganya. Dengan sedikit enggan dia memalingkan wajahnya. Ternyata Bunda Anisa yang memanggilnya, tetapi dia menghiraukan dan kembali menatap langit gelap itu. Bunda Anisa adalah pengurus Panti Asuhan tempat Bulan tinggal selama ini. “Bulan, kamu tidak boleh terus-terusan begini, nanti kamu bisa sakit”, suara itu muncul lagi. “ini sudah sangat larut sayang, sebaiknya kamu bergegas untuk tidur, Bunda tau apa yang kamu rasakan”, lanjut Bunda Anisa sambil merangkul Bulan dan membawa Bulan ke tempat tidurnya.

Bulan seorang gadis kecil yang berumur 5 tahun. Sudah 1 tahun belakangan dia tinggal bersama Bunda Anisa disebuah Panti Asuhan. Dulunya Bulan gadis yang sangat ceria dan lincah, tetapi sekarang semua itu sudah berubah, semenjak kecelakaan itu yang merebut nyawa Bintang, yaitu ibu Bulan. Bulan seorang anak yatim. Ayahnya meninggal saat dia berumur 1,5 tahun. Pun dia menjadi seorang anak yatim piatu semenjak kecelakaan itu terjadi. Bunda Anisa kebetulan teman dekat Bintang, jadi dengan rasa simpati dan empatinya,   Bunda Anisa membawa Bulan tinggal bersama anak-anak di Panti Asuhannya itu. Semenjak itu pula Bunda Anisa tidak pernah melihat goresan bibir Bulan terlukis sempurna, yang terlihat hanya bulir-bulir bening dari matanya yang indah. Setiap malam Bulan selalu memandang langit untuk menyaksikan bintang-bintang kecil di sana. Berharap salah satu dari ribuan bintang itu adalah Bintang ibunya.

Bulan memang terlalu kecil untuk menghadapi semua ini, tapi apa boleh buat. Hidup ini adalah goresan takdir dari Allah yang sudah terlukis sempurna di telapak tangan kita. Bulan pun harus menjalani takdir yang digoreskan Allah pada tangan mungilnya itu. “Bulan, sampai kapan kamu harus terus begini”, tegas Bunda Anisa. “bunda tau, untuk anak seumuran kamu memang sangat berat harus menghadapi cobaan ini, tetapi kamu tidak ingin kan ibu mu ikut menangis melihat kesedihan mu di sini”. Bunda Anisa coba menjelaskan pada Bulan, tetapi ia tetap saja terdiam dan menatap ke luar. “Bulan, sebenarnya apa yang mengganggu pikiran mu hingga kamu terus menatap ke langit luar”.

Kini suasana hening mulai merayap di dalam ruangan itu. Setelah beberapa saat Bulan pun mulai merespon apa yang dikatakan oleh Bunda Anisa. “Bunda, mengapa malam ini tidak ada satu bintang pun yang menghiasi langit itu, Bulan ingin melihat ibu di sana. Bulan sangat merindukan dia bunda. Apa karena ibu marah sama Bulan, makanya ibu ingin meninggalkan Bulan dan ibu tidak hadir malam ini”.

Bunda Anisa memalingkan wajahnya seketika, karena ia tidak ingin Bulan melihat butiran bening membasahi pipinya. Bunda Anisa sedih mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut manis Bulan. Dia bingung akan jawaban apa yang harus diberikan agar gadis kecil itu dapat mengerti. Belum sempat Bunda Anisa menjawab, malahan Bulan menambahkan pertanyaan selanjutnya. “Bunda, apa yang harus Bulan lakukan agar Bulan dapat bertemu dengan ibu. Bukankah kata bunda kalau besok seluruh anak merayakan Hari Ibu. Bulan juga ingin merayakannya bersama Ibu. Bulan ingin memberikan kado terindah buat ibu”.
Bunda Anisa kembali menitikkan air matanya. Dia tidak dapat membayangkan betapa besarnya kerinduan dan keinginan Bulan untuk bertemu dengan Bintang-ibunya. “Bulan, jika kamu ingin merayakan Hari Ibu kamu dapat mengirimkan beberapa Doa untuk ibumu di sana. Hanya itu yang diinginkan oleh seorang ibu, sayang”. Jelas Bunda Anisa. “tapi Bulan juga ingin bertemu dan merayakan bersama dengannya bunda. Bulan ingin seperti teman-teman Bulan lainnya. Merayakannya bersama sambil memeluk ibunya. Bulan ingin seperti mereka Bunda”. Kini tangisan Bulan mulai pecah. Mungkin dia memang tidak sanggup memendam rasa kerinduan terhada Ibu yang paling disayanginya.

Bunda Anisa mengerti sekali apa yang dirasakan Bulan. Walaupun Bunda Anisa bukan ibunya bulan, tetapi dia paham betul dengan jeritan hati gadis mungil itu. Bunda Anisa kembali menenangkan pikiran Bulan. “Bulan, jika kamu ingin merayakan bersama dengan ibumu maka kamu dapat merayakan bersama dengan bunda, bukankah bunda ini sekarang menjadi ibu mu juga. Walaupun bunda tidak dapat mengganti posisinya di dalam hati mu sayang, tetapi bunda ingin kamu memberi sedikit tempat bagi bunda agar dapat menjadi ibumu”. Bunda Anisa pun tidak dapat menyembunyikan lagi kesedihannya itu. “ jika langit itu gelap bukan berarti ibumu marah pada mu Bulan, tetapi malam ini dia tidak ingin muncul pada langit gelap itu, dia ingin hadir di dalam tidur lelapmu sayang”. Bunda mencoba membujuk Bulan untuk segera tidur agar dia bertemu dengan ibunya. “ jadi jika Bulan tidur, apa ibu akan hadir di mimpi Bulan. Jika memang benar, Bulan akan tidur sekarang, karena Bulan tidak sabar ingin berjumpa dengan Ibu. Bulan ingin mengatakan sesuatu pada ibu”, tegas Bulan.

Bunda Anisa pun membenarkan ucapan Bulan tadi. Kini Bulan mulai bergegas untuk tidur, karena dia tidak sabar ingin bertemu ibunya walaupun dalam mimpi. Sebenarnya Bunda Anisa takut setelah memberikan penjelasan seperti itu, karena Bunda Anisa takut jika memang Bulan tidak dapat memimpikan ibunya malam ini. Bunda Anisa takut melihat Bulan harus kecewa akan perkataanya ini, dan ia tidak ingin melihat gadis itu harus menangis kembali karena tidak dapat bertemu ibunya di dalam mimpi. Tetapi apa boleh buat, jika Bunda Anisa tidak  berkata demikian maka bulan akan terus menikmati kesedihannya ini, dan bulan tidak ingin tidur sampai dia dapat melihat Bintang di langit luas.

 

***

Matahari masih malu-malu untuk menampakkan wajahnya yang merona. Dia masih saja bersembunyi di balik awan. “Bunda…..” dengan riangnya bulan memanggil nama itu sambil berlari ke kamar Bunda Anisa. Tentu saja ini membuat bunda Anisa kaget. Ada apa dengan Bulan pagi ini, yang biasanya dia hanya terdiam tanpa kata-kata tetapi pagi ini dia malah kegirangan seperti baru mendapatkan hadiah terhebat di dunia. Sebenarnya Bunda Anisa senang melihat perubahan gadis ini. Tetapi hal apa yang dapat membuat goresan bibirnya dapat terlukis sempurna di atas kanvas kulit wajahnya yang mulus. Dihantui rasa penasaran bunda Anisa pun bertanya pada Bulan “ada apa sayang, apa yang membuat mu terlihat begitu bahagia pagi ini”.

Rasa tidak sabar mendorong Bulan untuk segera menceritakan apa yang dia rasakan. “bunda, semalam Bulan bertemu ibu di dalam tidur ku. Ibu datang dan memeluk Bulan, lalu ibu berkata kalau Bulan tidak boleh menangis lagi. Bulan harus terus tersenyum seperti anak-anak lainnya. Jika bulan menangis maka ibu juga ikut menangis. Ibu bilang kalau dia sangat mencintai Bulan, dan ibu bilang kalau dia terus bersama Bulan. Ibu terus berada di setiap hembusan nafas Bulan”.

Bunda Anisa tidak dapat menahan rasa harunya. Belum sempat Bunda Anisa berbicara, Bulan melanjutkan ceritanya. “bunda, Bulan juga sempat mengatakan apa yang ingin bulan sampaikan pada ibu, kalau Bulan sangat mencintai ibu dan bulan sangat menyayanginya. Bulan senang bunda, karena Bulan sempat mengatakan itu. Karena sewaktu ibu masih bisa tertawa bersama Bulan, Bulan tidak sempat mengatakannya. Sekarang ibu tau akan cinta Bulan untuknya”.

Bunda Anisa pun kini dapat membuka mulutnya, “Bulan, jadi sekarang kamu bisa tau kan, jika kamu terus menangis maka ibu mu akan ikut menangis. Bunda mohon mulai sekarang kamu tidak lagi mengijinkan air mata itu membasahi pipimu. Jadilah Bulan yang terus ceria agar  dapat memberikan sinar yang sempurna untuk Bintang. Kamu mau kan berjanji pada bunda”. Dengan senyum lebar Bulan pun menyetujui permohonan ibu yang telah merawat dia selama satu tahun ini. “Bulan janji bunda. Bulan tidak akan menangis lagi. Bulan akan menjadi anak yang baik. Bulan ingin membanggakan ibu dan bunda”. “Selamat Hari Ibu bunda”, lanjut Bulan. Bunda Anisa pun memeluk Bulan dengan pelukan hangat seperti pelukan seorang ibu sambil mengucapkan terimakasih dan berjanji pada Bulan jika dia akan menjadi ibu yang terbaik untuk Bulan.[]

One thought on “Bulan Merindukan Bintang

    evakasih said:
    April 27, 2013 pukul 1:51 am

    aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s