Dekonstruksi Cerpen “Ketika Cinta Berbuah Surga”

Posted on

Oleh Roslina

bukuDI TANAH Kurdistan, ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki putra; seorang anak laki-laki yang tampan,cerdas dan pemberani namanya adalah said. Di saat lain ayahnya memberi nasihat kepadanya “Said, Anakku, sudah saatnya kamu mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman yang baik, yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”

Apa maksud ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.

“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tetapi karena Allah. Yang akan membawa kalian nanti masuk surga.”

“Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” tanya Said.

Sang raja menjawab, “Kamu harus mengujinya dengan mengundang siapa pun yang kau anggap cocok saat makan pagi di sini. Jika sudah sampai perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Saat itu, rebuslah tiga telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat!. Dia pun mempraktekkan cara mencari teman sejati yang aneh itu.

Dia mengudang anak-anak para pembesar kerajaan satu-persatu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangannya tidak keluar-keluar. Bahkan ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji.

Akhirnya, Said berpikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian mulailah Said berpetualang melewati hutan, untuk mencari seorang teman yang baik.

Sampai akhirnya, dia bertemu dan berteman dengan seorang anak pencari kayu bakar, dia sangat miskin namanya adalah abdullah. wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati.

Sampai akhirnya Said menerepkan nasihat ayahnya “Said mengundang anak itu ke rumahnya“

Ketika anak pencari kayu itu sampai di istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Said menyambutnya dengan gembira. Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkan menunggu lama sekali. Akhirnya, tiga butir telur masak pun di hidangkan. Said mempersilakan temannya untuk memulai makan. Anak itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara itu, Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Kemudian, dengan sengaja Said mengambil telur yang ketiga. Dia mengupasnya dengan cepat, dan melahapnya. Temannya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau….?

Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lalu, dia membelah telur itu menjadi dua; yang satu dia pegang, dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.

Lalu, Said pun memeluk anak itu erat-erat seraya berkata. “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”

Sejak itu, keduanya bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah SWT. Raja yang adil; ayah Said meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya; baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

 

Dekonstruksi

 

Dilihat dari suktural said ini anak yang tampan, cerdas, pemberani dan  anak yang patuh terhadap orang tuanya. Namun, dilihat dari dekontruksi, Said adalah anak yang kurang baik karena dengan sengaja dia membuat kawan-kawannya lapar setelah dia undang untuk makan di rumahnya dan dia hanya memberikan tiga butir telur saja kepada temannya setelah beberapa jam menunggu. Dan ayahnya juga mengatakan kepada Said bahwa itu cara yang paling mudah untuk said. Tetapi, untuk temannya tidak karena temannya masih anak-anak yang tidak bisa menahan rasa lapar yang lumayan lama.

Seperti dalam cerita Undanglah siapa pun yang kau anggap cocok, untuk menjadi temanmu saat makan pagi di sini, di rumah kita. Jika sudah sampai disini, ulurlah dan perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syukur, jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”

Said juga membuat teman-temannya marah dan kesal karena terlalu lama menunggu hidangan. Seperti dalam cerita Mula-mula, dia mengudang anak-anak para pembesar kerajaan satu-persatu. Sebagian besar dari mereka marah-marah karena hidangannya tidak keluar-keluar. Bahkan ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji.

Adil merasa kecewa terhadap Said karena hidangannya Cuma berisi tiga butir telur saja, padahal dia adalah anak yang sabar dan setia menunggu hidangan. Salah satu dari mereka ada yang bernama Adil yang masih setia dan sabar menunggu hidangan keluar, Said mengira dialah anak yang baik hati dan setia. Akhirnya Said mengeluarkan tiga telur rebus yang sudah ia rebus sendiri.

Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku!”

Said juga memiliki sifat egois karena ketika membuat Adil pergi dengan hati yang kecewa dan  dia juga tidak meminta maaf kepada adil. Padahal jelas-jelas yang salah adalah Said yang membuat temannya sangat lapar dan kecewa. Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena telah meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tangannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejatinya.

Said juga membuat hati anak saudagar kecewa karena dia juga dihidangkan tiga butir telur padahal dia sangat lapar karena dari tadi malam tidak makan apa-apa. Dan dia berharap besok paginya bisa makan sepuasnya di rumah anak raja.

Hari berikutnya dia mengundang  anak seorang saudagar terkaya tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari anak raja. Malam harinya, sengaja dia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat.

Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu yang lama sampai keluar.Akhirnya, said membawa piring dengan tiga telur rebus di atasnya.

Said juga telah berburuk sangka terhadap anak saudagar itu karena dia mengatakan anak itu tidak setia dan tidak bisa merasakan suka dan duka bersama padahal dia tidak mengatakan bahwa telur itu untuk mereka dan anak itu langsung memakan semua telur yang dihidangkan itu.

Ini makanannya, saya kedalam dulu mengambil air minum kata said seraya meletakkan piring itu di atas meja.

Lalu, said masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Dia kaget.

Mana telurnya? “ tanya said pada anak saudagar.

“telah aku makan.”“Semuanya?”“ya, habis aku lapar sekali.”

Melihat hal itu said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dan tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, said juga belum makan apa-apa.

Said merasa jengkel kepada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tidak pantas dijadikan teman sejatinya. Akhirnya dia memnita izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.

 

Dilihat dari sruktural, tokoh utama protagonis adalah Said. Dari pendekatan dekontruksi, Said bukanlah tokoh utama protagonis, tetapi antagonis.

 

Roslina, mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s