Dalilot

Posted on

1622771_809626039063201_812289463_n

Dalilot, sebuah cerpen karya Ramajani Sinaga. Mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah ini sudah bertahun-tahun bergelut dalam bidang kepenulisan. Alhasil, karya-karyanya sudah bertajuk dalam tingkat nasional. Berikut ini kami hadirkan sebuah karyanya yang bersumber dari koran harian Aceh. Serambi Indonesia.

Silahkan dinikmati.

 Dalilot

Karya Ramajani Sinaga

DI USIAMU sekarang, pernahkah kau membayangkan sesosok lelaki tua yang berjalan tertatih menyusuri jalan kampung saat hujan turun lebat di tengah malam?

Di kampung kami, ia dikenal sebagai Dalilot. Tak ada satupun cerita yang bisa memastikan siapa sebenarnya Dalilot. Jika kau bertanya pada tetua kampung di kaki gunung, kau akan mendengar bahwa Dalilot itu penjaga gunung. Juru kunci mereka menyebutnya.

“Ia dilahirkan oleh seorang pengumpul kayu bakar di dalam hutan, di atas gunung, dan membesarkan Dalilot di sana. Setelah perempuan itu mati, Dalilot tinggal di dalam hutan larangan bersama harimau-harimau,” begitulah kira-kira kalimat yang akan kau dengar.

Lain halnya jika kau bertanya pada tetua kampung sebelah, di pesisir pantai. Menurut mereka Dalilot seorang nakhoda kapal dari pulau seberang yang terdampar.

Sebenarnya ada yang jauh lebih hebat dari sekadar asal-muasalnya. Tentu hal ini yang akan membuatmu bergidik. Hal ini pulalah yang menjadikan cerita ini bermula. Dalilot dikenal sebagai Si Pelantun Hikayat. Lelaki itu selalu keluar jika hujan turun lebat tengah malam. Ia berjalan keluar dari kegelapan hutan, menyeret langkah melewati jalan setapak di kaki gunung, lalu masuk ke perkampungan. Bayangannya akan mulai terlihat dari ujung jalan. Di tangan kirinya sebuah lentera berayun pelan akibat langkahnya yang tidak seimbang. Sementara di tangan satunya sebuah tongkat kayu menopang bagian tubuhnya yang miring ke kanan.

Jika ia telah mendekati pemukiman kampung, maka sayup-sayup akan terdengar lantunan kalimat dari mulutnya. Senandung hikayat, begitu orang kampung memberi nama. Seketika, jendela-jendela rumah yang tadinya tertutup akan tersingkap. Lampu-lampu yang semula padam kembali dinyalakan. Jika ada yang melihat dari atas bukit yang mencuat di ujung kampung, pastilah akan melihat kampung itu menjelma kunang-kunang dengan pendar cahaya.

Dalilot akan terus melantunkan hikayat sambil melangkah tertatih di sepanjang jalan. Lantunannya akan menyusup masuk melewati jendela-jendela rumah yang tersingkap. Lantunan hikayat itu menyerupai mantra-mantra. Terkadang terdengar seperti doa-doa yang menyatu dengan derak hujan yang jatuh di atas atap. Gemerisik daun-daun atau engsel jendela yang berdecit tertiup angin melebur dalam alunan hikayatnya. Orang-orang akan segera mematikan radio. Anak-anak yang tadinya ribut entah karena berebut apa akan berhenti dan jatuh dalam pelukan orangtua mereka. Bayi-bayi dalam gendongan yang semula merengek entah pasal apa tiba-tiba terdiam. Alunan hikayat Dalilot memenuhi setiap celah kampung. Dan orang-orang mendengar dengan khidmat.

Hikayat itu bermacam-macam pula bentuknya. Akan berbeda dari satu waktu dengan waktu lainnya. Ada kalanya hikayat yang dilantunkan berkisah tentang kepiluan nelayan-nelayan pesisir akan susahnya menjala ikan dan kekalahan telak mereka dari kapal-kapal tongkang. Atau menceritakan kegagalan panen petani karena tidak mampu membeli pupuk. Dalilot akan melantunkannya dengan suara lirih. Bahkan sesekali terdengar isakan. Dan entah apa pasal, orang-orang yang mendengar akan luruh air matanya. Dingin seketika membekukan tulang.

Ada kalanya pula hikayat itu bercerita tentang cericit burung-burung di dalam hutan, aneka warna kembang, atau celah-celah tebing yang mengucurkan air terjun. Mendengarnya, orang-orang kampung akan melupakan kekecewaan gagal panen. Suami istri yang bertikai akan kembali berdamai. Perut-perut yang menahan lapar seketika merasa kenyang.

Lantunan hikayat itu akan terus terdengar sampai orang-orang kampung dibuat terlelap. Setelah selesai pada lantunan akhir hikayatnya, biasanya ditandai dengan kalimat-kalimat menyerupai doa-doa, Dalilot akan kembali berjalan tertatih ke dalam hutan. Esok paginya, ketika hujan mulai mereda, dari sudut-sudut dapur akan kembali terdengar suara-suara perempuan mendidihkan air dengan kayu bakar. Bunyi kecipak air di sumur. Dari balik jendela, para lelaki paruh baya akan tampak berjalan beriringan sepanjang jalan setapak menuju sawah. Mereka memikul cangkul dengan parang yang tersampir di pinggang. Pun suara lenguh kerbau yang diarak masuk dalam petakan sawah.

Begitulah Dalilot dan hikayatnya.

***

Beberapa pria berseragam cokelat tanah utusan dari pemerintah pusat (begitu kira-kira mereka memperkenalkan diri) mendatangi kampung kami. Kampung yang semula tenang dan menyimpan Dalilot beserta hikayatnya.

Pria dengan seragam cokelat tanah itu menemui tetua kampung. Mereka berjumlah lima orang. Salah satu dari mereka tampak lebih dituakan. Pria inilah yang banyak bicara. Aku sendiri tidak tahu pasti pembicaraan itu seperti apa. Kami hanya melongok dari pematang sawah. Beberapa perempuan ada pula yang mengintip dari jendela rumah. Mereka berbincang di balai kampung.

Sepulangnya pria-pria berseragam cokelat tanah itu, kami semua warga kampung dikumpulkan di balai kampung. Kami bingung apa yang baru terjadi dan apa pasalnya kami dikumpulkan. Namun, wajah tetua kampung saat itu terlihat tegang. Rahangnya bergemeretak. Matanya semerah saga. Beberapa kali ia mendengus.

“Pemerintah pusat akan membuka lahan perkebunan sawit di kampung kita. Kita diminta bersiap-siap,” ujar tetua kampung.

Kami saling menatap bingung. Belum paham arah pembicaraan.

Setelah menarik napas yang begitu dalam, sampai muka tetua kampung ikut memerah, ia menyampaikan kalimat yang membuat kami tersedak.

“Hutan larangan akan dibabat. Namanya pembukaan lahan. Pohon-pohan akan ditebang. Demi pembangunan negeri.”

Mulailah suasana kampung menegang. Semua merasa keberatan. Semua takut kalau-kalau setelah hutan larangan dibabat, ditebang pohon-pohonnya, kampung kami akan mendapat musibah dan laknat.

“Itu hutan larangan! Hutan larangan tidak boleh ditebang!” Semua sepakat.

Suatu malam, masih dalam suasana tegang di kampung kami, hujan kembali turun dengan lebat. Seorang lelaki tua keluar dari dalam hutan, menyeret langkah melewati jalan setapak di kaki gunung, lalu masuk ke perkampungan. Bayangan mulai tampak dari ujung jalan. Dalilot!

Seperti biasa, ia berjalan tertatih menelusuri jalan kampung sambil melantunkan hikayat. Anehnya, ada yang janggal dari lantunan hikayat Dalilot malam itu. Lantunannya melengking-lengking nyaring mengembuskan perih yang teramat dalam. Pada bagian tertentu lantunannya berubah isakan. Pada bagian yang lain Dalilot melolong. Warga kampung terperanjat. Tak ada yang pernah mendengar lantunan yang biasanya syahdu, yang menyatu dengan derak hujan di atas atap dan melebur bersama gemerisik daun-daun dan derit kusen jendela tertiup angin itu, berubah menjadi lengking seperti seseorang kena cambuk.

Pada bagian akhir hikayatnya, pada bagian yang menyerupai mantra-mantra dan doa-doa, Dalilot lirih bersenandung panjang. Dalam senandungnya, saat itu hampir semua warga kampung mendengar dengan jelas, Dalilot membicarakan tentang negeri. Ia bersenandung tentang negeri yang akan segera kena laknat, tentang orang-orang lalim, tentang airmata yang mengering menjadi kerikil, lalu kerikil itu bertambah besar menjadi bongkahan batu, batu-batu ini lalu menimpa orang-orang lalim. Menimbun negeri yang kena laknat. Ia juga bercerita tentang orang-orang baik dan akar-akar menggantung.

Kami tidak begitu paham apa maksud hikayat itu sebenarnya. Namun kami semua terisak. Air mata luruh begitu saja. Badan-badan menggigil. Angin bertiup makin kencang. Aroma lumpur sawah menyusup lewat celah jendela. Masuk ke hidung. Tulang-tulang kami membeku. Dan tanpa kami sadari sebelumnya, itulah akhir bagi kami bertemu Dalilot.

Esok paginya, perempuan-perempuan tak lagi bersemangat mendidihkan air atau menimba di sumur. Para lelaki dengan langkah gontai berjalan bersisian di sepanjang jalan setapak memikul cangkul, dipinggangnya tersampir parang.

Pada pagi yang sama kami lihat beberapa mobil besar, tetua kampung menyebutnya bulldozer, merobek hutan larangan. Para pria berseragam cokelat tanah itu tampak manggut-manggut. Kami menatap dari kejauhan dengan sembilu tertancap ke mata maupun hati kami. Semakin dalam bulldozer itu merobek hutan larangan, semakin dalam pula rasanya sembilu itu mengoyak. Mata kami berair. Air mata luruh begitu saja.

***

Setelah hutan larangan habis dibabat, pohon-pohon habis ditebang, para pria berseragam cokelat tanah ini kembali datang. Kali ini mereka langsung mengumpulkan kami di balai kampung.

“Saudara-saudara warga kampung, dengan segala kerendahanan hati kami minta saudara bersedia direlokasi atau dipindahkan. Pasalnya, pemukiman ini termasuk bagian yang akan digarap menjadi pabrik. Yah, pabrik perkebunan di sana,” tunjuknya mengarah ke lahan perkebunan yang dulunya adalah hutan larangan.

Tak tahu harus menjawab apa, kami semua terdiam di tempat. Tetua kampung menangis keras. Kami tergugu melihatnya. Ia berguling-guling di tanah seperti kerbau kena sembelih lehernya. Dan entah apa pasal, tiba-tiba saat itu kami mendengar lantunan yang teramat kami rindu. Lantunan hikayat kami menyebutnya. Lantunan yang mengingatkan kami pada Dalilot. Lantunan itu melengking di udara. Entah dari mana. Seketika hujan turun dengan lebat. Angin bertiup menerbangkan apa saja. Atap-atap rumah kami terkoyak. Tiang-tiang rumah tercerabut. Seketika entah apa pasal, badan kami membeku. Dingin menyusup tulang.

Lantunan hikayat menyerupai hikayat Dalilot itu melengking-lengking sampai pada bagian yang menyerupai mantra-mantra dan doa-doa. Kami semua, warga kampung yang entah dengan apa menjawab bahwa kami tidak bersedia meninggalkan tanah nenek moyang kami, merasakan sesuatu keluar dari tubuh kami. Air mata kami berubah menjadi kerikil. Kerikil yang semakin lama semakin besar membentuk bongkahan batu. Mulanya kami takjub. Terlebih tetua kampung yang tadi berguling-guling di tanah membeku, mengeras, lantas tubuhnya menjelma pohon. Dan entah apa pasal pula, kami seolah tersedot ke tubuh tetua kampung yang telah berubah menjadi pohon. Ada yang bergerak dari dalam tubuh kami. Kami menyusut. Menjalar. Lantas menjelma akar.

Di usiamu yang sekarang, pernahkah kau membayangkan bahwa pohon besar dan akar-akarnya yang menggantung berasal dari warga kampung yang tidak rela meninggalkan tanahnya, tanah nenek moyangnya?

* Ramajani Sinaga, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah angkatan 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s