Cerpen

Potret Tua

Posted on

Cerpen Hendra Kasmi | Atjeh Post, 19 Januari 2013

potretKETIKA senja baru saja terlihat di langit barat, perlahan-perlahan desahan kecil Alaida berubah menjadi lenguhan panjang. Tak berapa lama rumah dari mana suara raungan itu berasal pun menjadi ramai. Ibu-ibu tetangga masuk ke dalam rumah panggung itu, sedangkan warga laki-laki banyak yang berjaga-jaga di luar. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Surat untuk Nanggroe

Posted on

Karya Sarah | Serambi Indonesia, 20 Januari 2013

Tidak banyak yang berubah dari kampungku. Sungai yang selalu menjadi tempat mandi favoritku setiap sore masih sama seperti dulu. Bahkan sekarang masih banyak  anak-anak mandi dan bermain-main dengan ban. Ibu-ibu juga ikut berpartisipasi meramaikan suasana senja di pinggir sungai. Mereka membilas pakaian d atas raket. Baca entri selengkapnya »

Persembahan untuk Emak

Posted on

cerpen: Nurfitriani

Malam begitu gelap saat semua mata mulai terlelap. Wanita tua renta masih saja memainkan tangannya dengan sanggat mahir. Mak minah tetap tidak menutup matanya tuk kesekian kali walau pun sudah tak terhitung berapa kali mulut itu menguap. Terus dan terus tangan mungil itu merajut beberapa topi yang akan dijualnya dikota kecamatan. Baca entri selengkapnya »

Hikayat Gögasi

Posted on

karya Mawardi

[sumber : Harian Aceh, 29 April 2012]

Pada suatu kampung yang tidak diketahui namanya, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Dapat kita katakan keluarga ini hidup dibawah garis kemiskinan. Mak Neh dan Nyak saleh merupakan ibu dan anak yang hidup dalam sebuah kampung di dalam hutan. Ayah nyak Saleh sudah lama menghilang entah kemana, menurut isu yang beredar Ayah Nyak Saleh meninggal karena dimakan oleh Gögasi(Raksasa).

Baca entri selengkapnya »

Inangku Diam Membisu

Posted on Updated on

cerpen Ramajani Sinaga

[Sumber: Medan Bisnis]

Aku merasakan tubuhku remuk saat mendengar Amang bertengkar hebat dengan Inang. Saat ayam belum berkokok, dan subuh pun belum tiba. Aku terjaga dari tidurku ketika mendengar suara Inang menjerit-jerit. Inang sudah memaki Amang, dan Amang sudah mencaci Inang. Saling mencaci dan memaki. Ini bukan yang pertama kali mereka bertengkar. Sungguh, tak terhitung berapa kali mereka sudah bertengkar. Hidupku runyam saat mereka bertengkar.

Baca entri selengkapnya »

Menunggu Cut Bang

Posted on

[Serambi Indonesia, 25 Maret 2012]

Karya  Ramajani Sinaga

Aku terbangun dari bunga tidurku ketika mencium harum masakan dari ruang dapur. Aku melangkah menuju dapur, memastikan apa yang telah terjadi. Alangkah terkejutnya aku ketika Cut Bang telah berada di meja makan. Dia melemparkan senyuman.  Tempe goreng, ikan asin, dan nasi putih telah terhampar di meja makan. Cut Bang menyambut hariku dengan ceria.

Baca entri selengkapnya »

Laila dan Air Mata

Posted on Updated on

[Serambi Indonesia, 4 Maret 2012]

Karya Ramajani Sinaga

Laila, putri pertama Syarifah yang lahir karena air mata. Tidak ada yang aneh  pada Laila.  Secara fisik ia persis seperti anak-anak yang lain. Bedanya, Laila sudah ditinggal oleh emaknya, Syarifah,  sejak  ia masih belajar merangkak.   Laila pun harus hidup seadanya bersama sang nenek dalam sebuah gubuk reot.
Baca entri selengkapnya »