Posisi Masyarakat Sipil di Tengah Konflik

Resensi Buku Oleh Herman RN  Judul Buku         : Pada Tikungan BerikutnyaPenulis       : Musmarwan AbdullahPenerbit     : LapenaCetakan      : edisi I, Desember 2006Tebal          : 104 halaman; 13,5 x 20 cm            Satir, lucu, dan memukau, dipaparkan Musmarwan dalam kumpulan cerpennya, “Pada Tikungan Berikutnya”. Musmarwan Abdulah, begitu nama lengkapnya, kelahiran Kembang Tanjong, Pidie, mengangkat realitas kehidupan rawan mayarakat Aceh di masa konflik ke dalam sebuah karangan fiksi.          Dalam fiksi, realita dan imaji bermain merupakan sebuah keabsahan. Begitulah yang diungkapkan “Pada Tikungan Berikutnya.” Dalam cerita itu Musmarwan yang berposisi sebagai tokoh Aku lirik hendak pergi ke kantor salah satu koran di kampungnya. Aku yang bekerja sebagai seorang penulis, itu baru saja mendapat wesel pos berisi honorarium atas tulisannya yang dimuat di salah satu koran lokal. Adalah sebuah kesenangan bagi Aku karena pada saat itu dia memang sedang sangat membutuhkan uang untuk makan anak dan istri di rumah.          Aceh pada masa konflik, di setiap segi jalan didirikan pos polisi. Pos itu untuk mengamankan masyarakat. Sudah menjadi tugas polisi di daerah konflik, setiap yang lewat dan mencurigakan ditanyai. Semua itu demi keamanan kampung. Demikianlah kenyataan yang dipaparkan dalam cerita Musmarwan.          Tokoh Aku ketika menuju kantor salah satu harian di kampungnya harus melewati pos-pos polisi tersebut. Pos pertama si Aku langsung dimintai Kartu Penduduknya (KTP). Di KTP, tertera pekerjaan Aku sebagai penulis cerita pendek. Polisi yang men-sweeping meminta Aku bercerita, tentang apa saja. Aku semula tak mau bercerita, namun karena paksaan dari polisi, Aku terpaksa bercerita.          Pos pada tikungan pertama terlewati setelah Aku bercerita sedikit tentang daerahnya, tetapi pada tikungan berikutnya, di pos yang lain, si Aku kembali ditanyai hal serupa. Aku kembali bercerita sedikit tentang kampungnya, kemudian dia dilepaskan kembali oleh polisi tersebut. Pada tikungan berikutnya, di pos yang lain, Aku kembali disweeping dan diminta bercerita. Setiap tikungan yang dilewatinya, pasti si Aku menemukan pos polisi yang akan menanyai dirinya tentang banyak hal, terutama tentang pekerjaannya sebagai penulis cerita pendek. Masalah tanya menanya pada masa konflik di provinsi Aceh adalah hal wajar. Namun yang hendak diungkapkan cerpen itu sebenarnya merupakan sebuah kerawanan hidup di daerah konflik.          Akhir cerita, matahari sudah tepat di kepala, si Aku belum sampai juga di kantor Surat Kabar yang hendak ditujuinya. Demikian sebuah sindiran diajukan Musmarwan, bahwa masyarakat biasa pun ketika hendak mencari sesuap nasi harus berhadapan dengan pos-pos polisi yang pada akhirnya membuatnya tetap menahan lapar.          Sindiran-sindiran lain dapat juga dilihat pada cerpen yang berjudul “Monyet”. Tokoh dalam cerpen tersebut digambarkan sebagai sesosok monyet berjas. Jelas ini merupakan sindiran pada pejabat. Monyet itu hendak menemui pejabat di kota, namun di dalam taksi, supir taksi berkata, “Jangan percaya janji-janji pemerintah.” Ini merupakan kecaman bahwa pemerintah terlalu banyak mengumbar janji.          Dalam buku itu juga ada cerpen yang menceritakan kejadian tsunami. “Tuhan-tuhan Kami” merupakan salah satu cerpen yang bercerita saat kejadian tsunami melanda Aceh. Tuhan yang dimaksudkan dalam cerita itu adalah berupa pangkat, jabatan, harta, dan otak (kepintaran). Musmarwan hendak menyindir orang-orang yang terlalu mencintai hal lain di dunia ini ketimbang Tuhan yang sesungguhnya, yang dalam konteks Aceh, Tuhan yang dimaksud adalah Allah swt. Hal ini terlihat pada seorang tokoh yang beragama Islam.          Dalam cerpen yang berjudul “Sepucuk Surat jadi Rebutan” Musmarwan mencoba menasehati pembaca tentang arti sebuah persatuan. Sepucuk surat kaleng yang ada di kantor pos jadi rebutan banyak orang hingga surat itu robek. Kemudian robekan surat itu disatukan, lalu tertera sebuah tulisan, ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’.          Jika dibandingkan dengan cerita-cerita lain yang ditulis penulis Aceh, seperti “Perempuan Pala” milik Azhari, cerpen Musmarwan hampir tak kelihatan lagi kemurungan. Musmarwan mencoba bangkit dari kemurungan walaupun masih bercerita tentang posisi rawan masa konflik dan bencana. Ada sebuah harapan dalam cerpen-cerpen Musmarwan yang dijadikan sebagai pesan bagi pembaca. Pesan itu disampaikan lewat sindiran-sindiran halus yang kocak. Sesekali pembaca diajaknya merenung dan tertawa, namun tetap pada jalur ke-Tuhanan. Musmarwan jelas belum melepaskan Tuhan dalam karyanya. Tuhan selalu jadi bahan perputusan terakhir, tidak seperti karya-karya besar dunia yang sementara mengenyampingkan Tuhan dalam karya sastra.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s