CINTA RIRIN

Oleh: Sudarmono

Panggung adalah gubuk kecil yang beratapkan daun rumbiah. Berdinding papan dan beralaskan karpet yang baru dibeli. Dengan pintu yang kayunya hampir keropos karena dimakan rayap. Ada kursi di luar tepatnya di bawah jendela. Di kursi itu duduk seorang gadis, (setelah membersihkan pekarangan gubuk) tatapannya tertuju ke arah jalan raya.

Ririn:      Bukankah pernah kau katakan, kita akan selalu bersama sampai kapan pun. (sambil menatap jalan). Kemarin kau masih ucapkan kata-kata itu. Ya, kata-kata yang pernah kita ucapkan bersama. Masih ku ingat waktu kita jalan bersama. Kau bilang jangan takut akan semua yang kita jalani ini, setelah selesai urusan mu nanti, kau akan datang melamarku. Tapi apa.? Apa yang terjadi sekarang? Kau biarkan aku meratapi kesedihan ini sendiri. Kau biarkan aku menanggungnya sendiri. Padahal, aku di sini selalu mengharapkan kau datang. Selalu mengharapkan kita dapat bertemu. Apa salahku? Tuhan, apakah memang tak Kau izinkan aku untuk memilikinya? (sambil menangis).

Sementara itu, seiring dengan tangisan Ririn, dari dalam gubuk terdengar suara tangisan seorang bayi. Tangisan bayi itu menambah kesedihan yang sedang dialami Ririn. Ada kakak ipar Ririn di sana yang sedang mencoba mendiamkan anaknya.

Marni:     Cup, cup, cup, sayang… ssssssttttttt….sayang….jangan nangis… mau minum susu ya…. Rin… tolong buatkan susu untuk ayu, asyik nangis aja dia dari tadi ini. (memanggil Rina).

Ririn:      (tersentak saat mendengar kakak nya memanggil, sambil mengusap air matanya), Iya kak, sebentar.

Marni:     Jangan terlalu lama, ayu sudah nangis dari tadi ini. Jangan kamu campur dengan gula seperti kemarin!

Ririn:      (bergegas melangkah ke dapur), iya kak, sebentar ya kak.

Marni:     (menatap ke arah penonton), begitulah anak muda sekarang, kalau sudah menyangkut masalah cinta, hari-harinya melamun saja. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Sampai-sampai susu yang sudah manis pun, masih saja dicampur dengan gula. Ada-ada saja sikapnya. Tak seperti waktu saya pacaran dulu. Kalau tak jodoh, ya mau bagaimana lagi? Kan segalanya sudah ada yang mengatur, jadi ya…. santai sajalah.. (terdengar kembali tangisan bayi yang  digendongnya), Ssssstttttttt…cup, cup, sabar ya sayang.. jangan nangis.. bunda Ririn sedang buat susu tuh, sebentar lagi siap. (sambil mendiamkan tangisan bayinya, kemudian memanggil Ririn), Rin…. sudah siap apa belum.?

Ririn:      Iya kak, ini sudah siap susunya.

Marni:     Ya, terimakasih. Tolong kamu jaga ayu ya, kakak mau mencuci pakaian. Kalau kamu capek menggendong, kamu masukkan saja dalam ayunan, biar dia tertidur, kerena dari tadi ayu belum tidur.

Ririn:      Iya kak. (mengambil ayu dari gendongan kakaknya)

Sementara itu muncul seorang lelaki yang baru saja pulang dari kerjanya. Memarkirkan kendaraannya tepat di depan gubuk kecil itu. Ia adalah abang nya Ririn.

Trisno:    Assalamualaikum…

Ririn:      Walaikumsalam…

Trisno:    Bagaimana kabar mu hari ini Rin? Abang lihat akhir-akhir ini kamu sering kelihatan murung. Masalah apakah yang tengah kamu hadapi? Ceritakanlah pada abang mu ini.

Ririn:      (dengan menundukkan kepala), tidak ada masalah apa-apa bang.

Trisno:    Benarkah tidak ada masalah yang sedang kau alami?

Ririn:      Iya bang, benar, tidak ada masalah apa-apa. Oia bang, bagaimana hasil kerjanya hari ini? Dapat rezeki banyak kan bang? (mencoba mengalihkan pembicaraan)

Trisno:    Ya, Alhamdulillah.. cukup lah untuk bayar uang kontrakan kita bulan ini.

Ririn:      Syukur Alhamdulillah. Jadi untuk bulan depan kita masih bisa tinggal di sini bang?

Trisno:    Ya, begitulah adik ku sayang.. Tapi sekarang ini ada yang lebih penting dari itu.

Ririn:      Apa itu bang?

Trisno:    Hari ini abang melihat kamu dalam kedaan murung. Mana mungkin abang tega membiarkan adiknya dalam keadaan seperti ini. Ceritakanlah pada abang mu ini. Apa yang sedang kau alami?

Ririn:      Ririn tidak apa-apa bang, tidak ada masalah apa-apa. (dengan menundukkan kepala)

Trisno:    Sudahlah Rin, tak usah kau tutup-tutupi kesedihan mu itu. Jelas terlihat dari wajahmu, menampakkan kesedihan yang tengah kau alami. Abang juga pernah merasakan hal yang sama yang  seperti kau alami. Memang berat rasanya jika kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita sayangi. Tapi, apalah mau dikata. Hidup kita penuh dengan ujian atau cobaan. Hidup dan mati kita ada di tangan-Nya.  Kita hanya bisa menjalani hidup dan berusaha untuk selalu mendapatkan ridho dari-Nya. Sudahlah, jangan bersedih lagi, mungkin esok atau lusa kamu dapat bertemu dengan orang yang kamu sayangi. Allah hanya menunda saja pertemuan kalian, kamu harus tetap sabar.

Belum sempat Ririn membalas apa yang dikatakan oleh abangnya itu. Tiba-tiba muncul seorang laki-laki bersama seorang wanita dengan berpakaian rapi dan bermodel. Layaknya pakaian dari kelas atas.

Manto:    Permisi, waduh-waduh. Sepertinya sedang membicarakan hal yang serius ini.

Elis:        Sepertinya kita datang tidak tepat waktu ini pak. Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau kita tidak datang, merekapun tidak mau mengantarkannya sendiri.

Manto:    Iya bu, padahal sudah jatuh tanggal pembayaran kan? Tapi mengapa tak ada kabar ya? atau mungkin mereka tak mau bayar?

Elis:        Ow..ow..ow…tidak, saya tidak mau dengar kata-kata seperti itu. Hai Trisno, sudah kau sediakan uang kontrakan untuk bulan depan? Kamu tahu, sekarang tanggal berapa?

Trisno:    Ya bu Elis. Uang sudah saya sediakan. Hanya saya belum sempat untuk mengantarkannya ke rumah ibu. Saya mohon maaf, dan terimakasih saya karena ibu dan bapak sudah mau datang kemari.

Manto:    Maaf..! Semudah itu kau bicara maaf. Kau tau, gara-gara kami datang kemari, telah banyak terbuang waktu kami. Seharusnya kami bisa menggunakan waktu kami untuk hal yang lain. Masih banyak yang harus saya kerjakan dari pada ini.

Elis:        Kalau begitu, cepat serahkan uang nya. Kami tidak punya waktu banyak di sini. Karena kami mau soping.

Trisno:    (merogoh sakunya seraya mengambil uang yang diminta) ini bu elis uangnya. Sekali lagi saya mohon maaf.

Manto:    Ya sudah bu, ambil uang nya, lalu kita pergi. Jangan berlama-lama di sini.

Elis:        Untuk kali ini saya maafkan. Tapi ingat! Untuk bulan depan jangan sampai kami yang datang kemari, atau rumah ini akan saya kontrakkan kepada orang lain.

Trisno:    Iya bu Elis.. Insya Allah. Untuk bulan depan saya akan antarkan sediri.

Manto:    Ya sudah, mari kita pulang bu.

Setelah mengambil uang yang diberikan oleh Trisno, Manto dan istrinya pergi meninggalkan gubuk kecil itu.

Trisno:    Kamu lihat sendiri kan Rin? (melanjutkan pambicaraan yang terputus tadi). Hidup kita penuh dengan cobaan dan ujian. Orang seperti kita ini harus tahan terhadap ujian yang diberikan Allah. Seperti tadi misalnya, kita harus belajar sabar dalam menerima omongan-omongan yang dapat membuat hati kita sakit.

Ririn:      Iya bang. Ririn akan berusaha untuk tetap sabar dalam menjalani hidup ini.

Trisno:    Nah, sekarang kamu ceritakan, masalah apa yang sedang kamu alami?

Ririn:      Ririn dapat telepon dari keluarganya Sugi bang.

Trisno:    Lalu, ada kabar apa sehingga membuat mu bersedih?

Ririn:      Sugi bang, pacar Ririn.. (mulai menangis)

Trisno:    Ada apa dengan Sugi? Dia memutuskan kamu?

Ririn:      Bukan bang, bukan itu.

Trisno:    Lalu apa adik ku sayang, (mendekat ke arah Ririn dan menatap wajah nya)

Ririn:      Sugi telah tiada bang. Dia meninggalkan Ririn untuk selamanya.

Trisno mulai mengerti apa yang tengah dirasakan oleh adik nya itu. Diapun mencoba untuk menghibur hati Ririn.

Trisno:    Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Hidup dan mati kita ada di tangan-Nya. Allah Yang Maha Berkuasa. Segala sesuatunya datang dari Allah, dan segala sesuatunya juga akan kembali kepada-Nya.

Ririn:      (dengan sersedu-sedu) i. i. iya bang. Ririn tau itu..

Trisno:    Sabar ya adik ku. Yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan doa untuk Sugi, semoga amal dan ibadahnya diterima Allah swt. Mungkin kalian belum dipertemukan dalam tali rumah tangga di dunia. Tetap yakinlah, Allah mempunyai rencana lain untuk dirimu.

Ririn:      Ririn sangat mencitainya bang, sulit rasanya untuk melupakannya.

Trisno:    Ririn adikku. Memang benar, melupakan adalah hal tersulit bagi kita. Awalnya sangatlah sulit kita melupakan orang yang kita sayangi. Apalagi jika kita mengingat kenangan-kenangan yang indah. Namun, ketahuilah adikku, Ririn harus berusaha untuk tetap tegar. Kita hidup melangkah ke depan. Semua butuh proses, abang yakin perlahan kamu dapat melewati ini semua dengan ketulusan dan ketabahan.

Ririn:      Terimakasih bang, Ririn sangat bersyukur punya abang yang selalu memperhatikan Ririn.

Trisno:    Sama-sama adik ku. Ya sudahlah Rin, jangan menagis lagi, nanti sore kita pergi ke rumah keluarga Sugi untuk melayat. Tetap sabar ya, dalam menghadapi cobaan ini.

Ririn:      Benarkah itu bang? Kita akan pergi ke rumah Sugi?

Trisno:    Benar adik ku.

Ririn:      Terimakasih ya bang. Ririn sayang abang. (mencium tangan Trisno).

 

……….S E K I A N……….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s