IBU

Naskah Drama

Seorang ibu duduk di atas kursi di ruang tamu sederahana sambil terkantuk-kantuk. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 WIB. Terdengar ketukan di pintu, tapi si ibu tak jua membukakan pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka, sesosok tubuh perempuan muda itu membelai lembut rambut si Ibu dan mencium tangannya.

 

Ibu  :  (Terpana dan memandangku lama) seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“kau ?? Maaf, ibu tertidur . tak tahu kalau kamu sudah datang.”

Aku :   “Kenapa ibu tidak tidur di kamar saja?”

“Enggak ditunggu pun aku pasti pulang kok. Is juga minta, sudah menggangu ibu,  kapalnya lamban sih..”

Ibu  :    (Tersenyum, bertanya penuh perhatian)

“Kau sehat? Aman diperjalanan? Ibu kira aku akan bernasib seperti TKI lainnya  menderita. Syukurlah kau datang dengan sehat, itu lebih penting. Jangan kau pikirkan lagi kegagalanmu di negeri orang. Anggaplah pelajaran, meski harus dibayar mahal…”

Aku mengiyakan. Kupeluk tubuh ibu erat sekali. Kucium pipi dan keningnya. Kebelai rambutnya yang tinggal sedikit dan dibanjiri uban itu.

Ibu  :   “Ibu tidak bisa tidur sejak mendengar para pekerja Indonesia diusir dan dicambuki di sana. Ibu ketakutan kalau-kalau kau kena hukum cambuk. Ibu selalu berdoa setiap malam. Ibu ingin kau pulang secepatnya.”

(Ibu menyeka air matanya)

“Ibu marah ketika dengar para TKI bakal di hukum cambuk. Ibu membayangkan bagaimana wajah para TKI saat dicambuki, namun ibu tak bisa bayangkan pedihnya.”

Aku  :  “Tapi, sekarangkan aku sudah pulang, sudah bertemu lagi dengan ibu. Jadi, ibu jangan berfikir macam-macam tentang negara itu. Di negara manapun, pemerintahnya selalu tak ingin diganggu oleh rakyat. Karena itulah, mereka buat peraturan-peraturan yang tidak masuk akal.”

(Aku melamun)

ibu  :     “Kau sudah makan, Is ? Ayolah makan. Ibu sudah siapkan masakan kesukaanmu. Ibu yakin kau lapar sekali, segeralah supaya jangan sakit….”

Aku  :  (Kutatap Wajah ibu)

“Tapi, Bu, aku belum lapar. Aku masih kangen sama ibu……”

Ibu   : “Ya sudah, kalau belum lapar, kamu ke kamar mandi dulu, basuh badanmu dengan air hangat biar segar, itu sudah ibu masakan air panas di termos……”

Aku :  “Nanti ajalah , Bu, sekalian shalat subuhkan sebentar lagi,”

(Kutatap jam dinding : 04.30)

“Oya, ibu capek mau kupijit ? ”

(Aku mulai memijit pundak ibu)

Ibu  : “Tak usah, kalau ibu kuat mestinya kamu yang ibu pijit. Kan kau capek di perjalanan. Oya berapa hari kau di nunukan ?”.

Aku  :  “Seminggu, Bu!”

Ibu    :  “Lama sekali ? memangnya tidak ada bantuan kapal di Jakarta ?”

Aku  :   “Entahlah kapal bantuan dari pemerintah sepertinya lamban sekali. Kami terkatung-katung di penampungan itu. Makanan di kirim untuk kamisekadarnya itu sebabnya, banyak yang terjangkit penyakit, beberapa TKI yang tak tahan akhirnya meninggal di sana……”

Ibu   :  (Mendesis marah)

“keterlaluan ! memangnya kalian itu orang tahanan di sana ? dibiarkan menderita, kelaparan ?”

Aku  :  Entahlah, Bu !

Ibu    :  (Berang, nada suaranya meninggi)

“Padaha, enggak mungkin rakya mencari nafkah di luar negeri kalau di sini terbuka lahan pekerjaan. Tetapi, karena di sini menganggur, akhirnya beramai-ramai mereka cari hidup di negeri orang, kayaknya memalukan sekali kita sebagai bangsa !”

Aku  :  “Tapi, sudahlah, Bu yang penting aku sudah pulang dengan selamat. Aku tetap sehat. Kalai ibu sudah mengantuk, tidurlah, nanti aku bangunkan kalau azan subuh.”

Ibu   :   “Ibu belum mengantuk”

Aku :   “Tapi, ini sudah larut malam, Bu waktunya ibu harus tidur….”

Ibu   :   “Ibu belum mau tidur. Lihat nih mata ibu masih besar….”

Aku :  “Mata ibu memang besar. Lagian apa hubungannya mata besar dengan      ngantuk dan mau tidur ? ibu ini…….”

Ibu  :   “Ya ada. Kalau ibu sudah mengantuk, mata ibu akan nyipit. Itu artinya harus tidur.”

(Aku tersenyum. Ibu masih seperti dulu : penuh humor)

Dikamar aku dududk di bibir ranjang menghadap cermin gantung.

Ibu   :   (Masuk)

“Ibu kira kau sudah tidur, Is?”

Aku :   (Aku bergeser sedikit untuk memberikan tempat bagi ibu untuk duduk di ranjangku)

“Oooo….Ibu….aku nggak ngantuk.”

Ibu   :   (Berbicara dengan hati-hati, agak terbata)

“Kamu sudah dewasa sekarang, mestinya kau sudah berfikir untuk berumah tangga. Biar ada orang yang melindungimu yang menanggung hidup. Biar kau tetap di kampong ini, menjaga ibu yang sudah tua ini.”

Aku  :  “Maksud Ibu?”

Ibu   :  Apa kau sudah punya pria pilihan lain untuk menjadi suamimu ? Ibu ingin suamimu  adalah orang kampong ini juga.  Biar kau tidak dibawa merantau….”

(Aku menggeleng, terdiam. Aku memandang wajah ibu di cermin.)

Ibu   :   “Kalau belum, bagaimana kalau ibu yang menjodohkan kamu………”

Aku  :   “Maksud Ibu ?”

Ibu   :  “Ibu ingin….Maksud Ibu, kalau kau setuju, ibu kau menikah dengan Pak Sumarta…..”

Aku  :   Apa ? ? Bandot tua yang dulu mau ayah jodohkan padaku itu, masih di sini ? dan Ibu ingin aku menjadi istrinya ? yang ke berapa ? ketiga, keempat, kelima, atau hanya istri simpanannya? ”

(Protesku dengan suara yang mulai meninggi, aku kecewa.)

Ibu   :   (Berkata pelan)

“Itu kalau kau setuju, Ibu tak memaksa. Tetapi, karena penolaknmu dulu, keluarga kita berutang padannya. Ayah keburu mengambil uang lamaran Pak Sumarta yang tidak kecil dalam ukuran keluarga kita, karena ia berfikir kau pasti takkan menolak keputusan ayah. Ternyata sebaliknya, kau justru meninggalkan rumah. Ayah pun tak bisa mengembalikan uang itu lantaran sudah dibelikan tanah dan ternak yang ternyata bengkrut. Sampai kini ibu harus membayar cicilan setiap bulan, sedangkan bunganya terus beranak…..”

Aku   : Oooohh…

(Tubuhku lunglai, melorot ke lantai : aku pingsan)

Tim Penulis

Erwandi Chaniago

M. Iqbal

Ari Marfi

Hasna

Tut Wuri Handayani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s