KELUHKU BERCERMIN

oleh MULIANA

Pelaku :

  1. Bapak berumur 55 tahun
  2. Ibu berumur 53 tahun

Setting :

Larut malam di ruang tengah sebuah rumah tua. Di tengah ruangan ada sebuah cermin kusam berumur 20 tahunan berhadapan dengan sepasang kursi kayu. Ada sebuah meja di tengahnya. Di atas meja ada sebuah asbak dan beberapa album pernikahan.

Bapak  :(Membolak-balik album dan rokok di tangan kanan. Kadang-kadang tampak seperti mengingat sesuatu kemudian mengangguk-angguk sambil tersenyum simpul)

Bapak  :(Berjalan menuju cermin dan berdiri tepat di depan cermin kemudian menghitung menggunakan jarinya) Zainal 4, Aiyub 2, Mila 3, Karim 1, 10 cucu, tetapi 10 bulan juga tak satu pun tampak kemari, Min! Dulu kusekolahkan mereka tinggi-tinggi, biar aku bisa hidup bahagia di masa tuaku bersama mereka (berhenti berbicara, melihat Ibu berjalan ke arahnya)

Ibu       :(Berhenti sejenak, tetapi melihat Bapak diam, Ibu berlalu pergi)

Bapak  :(melanjutkan kembali) Kalau tahu begini Min, tak kusekolahkan mereka tinggi-tinggi. (Melihat bayangan di cermin lebih dekat) Tadi sore, aku ditelepon sama anak tertuaku, si Zainal. Katanya dia rindu aku sama Ibunya juga. Aku tak percaya Min. Setiap dia dan adiknya telepon selalu itu yang dikatakan. (Mulai sedih) Aku tahu Min, aku juga rindu sama cucuku, aku tak mau hanya ditelepon terus menerus (memukul dinding tempat cermin itu digantung dan mengeleng-gelengkan kepala)

Bapak  :(Memperhatikan lagi bayangan di cermin) Dua hari yang lalu, saat si Aiyub  telepon memberitahuku dia naik jabatan di kantornya, dia juga bilang rindu aku. Seminggu yang lalu juga gitu, sebulan yang lalu juga sama. Aku tak percaya lagi, Min. Kalau mereka memang rindu, kenapa tak pulang saja mereka kemari. Aku yakin Min., Aku yakin (menepuk-nepuk dada) itu cuma bohong, itu cuma basa-basi biar tak kubilang mereka anak durhaka.

Ibu       :(Menghampiri dan memegang bahu Bapak) Istigfar Pak, istigfar, Zainal, Aiyub, Mila, dan karim itu anak-anak kita Pak. Tak sepatutnya Bapak berbicara seperti itu. Untuk apa Bapak dulu menyekolahkan mereka tinggi-tinggi kalau sekarang Bapak tidak bisa menerima keberhasilan mereka.

Bapak  :(Berpaling ke arah Ibu) Tapi mereka eggak harus ke kota Bu! Mengabdi itu bisa di mana saja. Bahkan, kampung kita lebih membutuhkan mereka. Bu….(Berpaling ke cermin dan melihat Ibu dari cermin)

Ibu       :(memotong pembicaraan Bapak) Pak, anak-anak kita itu bekerja untuk negeri kita, mereka bukan main-main saja di sana. Lagi pula mereka tidak pernah melupakan kita. Bapak diajak pindah ke sana kan juga tak mau kan?

Bapak  :(sedikit emosi) Buk, tempat kita itu di sini. Bapak tak bisa meninggalkan kampung ini. Kampung ini tanah kelahiran Bapak dan semua anak-anak kita.

Ibu       :Nah, nah, itu dia. Bapak tidak bisa meninggalkan kampung ini. Begitu juga dengan anak-anak kita. Mereka tidak bisa meninggalkan tugas yang telah diberikan negara untuk mereka. (suara merendah) Lagi pula, bulan depan kan Idul Fitri. Bapak ya sabar, sebentar lagi kita juga jumpa ma cucu-cucu kita.

Bapak  :(muka sedih dan suara mulai mengecil) Bapak tidak bisa terima Buk. Mengapa anak-anak kita harus tinggal di kota semua. Untuk apa mereka bekerja untuk orang-orang yang merugikan negara kita. Bapak mau anak-anak kita mengabdi di kampung ini.

Ibu       :Itu kan menurut Bapak. Di sana mereka kan juga mengabdi (berpaling meninggalkan Bapak)

Bapak  :Ah, Ibu selalu begitu. Ibu tak mengerti.

Ibu       :(mulai santai) Ibu mengerti Pak. Ibu yakin, Bapak juga mengerti. (sambil berjalan meninggalkan Bapak) Jangan lama-lama berbicara dengan cermin, nanti cerminnya marah.

Bapak  :Mana bisa cermin marah, memangnya Ibu.

(Tiba-tiba terdengar suara kucing berlari mengejar tikus dari atap rumah. Semakin lama semakin berisik)

Bapak  :huss..huss.. (suara Bapak mengusir kucing sambil wajahnya menengadah ke langit-langit)

(Akan tetapi semakin lama semakin berisik, Bapak buka suara kembali)

Bapak  :Min, apa si kucing juga tak setuju aku cerita kepadamu? Kau dengar itukan Min. (menunjuk ke langit-langit rumah) Ya sudahlah Min. Aku juga mau tidur. Kuharap besok kau masih bersedia mendengar ceritaku lagi.

(Bapak meninggalkan ruang tengah itu, tetapi dari atap rumah masih terdengar suara kucing berlarian)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s