Marshmallow…

naskah Rauza Hindun

Maira : Lu mau nunggu sampai kapan? Sampai David Archuleta ngemis- ngemis cinta sama lu?

Leron : Gua yakin kok kalo dia bakalan hubungi gua. Ya.. paling nggak sms.

Maira : Tapi buktinya sekarang apa? Mana? Lagian dia kan gengsinya gede banget tuh. Gua yakin banget kalo dia emang nggak pernah cinta sama lu, Ron. Yang mau sama lu juga banyak kan?

Leron : Lu kok ngomongnya gitu sih?

Maira : Leronku sayang… dengar ya, kalo dia emang cinta sama lu, dia nggak bakalan deh jauhi lu.

Leron : Mungkin dia punya alas an tersendiri.

Maira : Gua makin nggak ngerti sama prinsip lu. Terus aja berharap.

Leron : Harapan itu membuat kita semangat, Ra.

Maira : Gua nggak tau mau bilang apa lagi, Ron. Lu harus percaya sama gua kalo terakhir dia bilang sama gua alasan dia jauhi lu adalah biar lu bisa lupain dia, Ron.

Leron : Ohya??? (mulai naik pitam kayaknya). Tolong bilang balik sama dia… apa haknya nyuruh gua lupain dia? Gua mau cinta sampai mati kek sama dia, ya.. terserah gua dong!

Sabtu, 4 Oktober 2008

~~~

Arfa : Biar pun Inga kasar dan liar, tapi gue ingat banget waktu dia nangis di dada gue. Gue kok jadi kasihan sama dia? Gue kepikiran dia terus. Gue yakin saat ini dia pasti lagi butuhin gue. Sebenarnya dia juga butuh dimanjain. Selain itu gue juga kangen berat sama dia.

Arzo : Loe sih sia- siain dia. Menurut gue kalo loe udah ngerasa kasihan dan kepikiran dia terus, berarti loe harus hati- hati, Sob!

Arfa : Maksud loe? Emang mau nyebrang pake hati- hati.

Arzo : Loe udah mulai jatuh cinta sama dia.

Arfa : ?????

~~~

Rayi… sosok itu mengingatkan aku kepada seseorang yang… ya begitulah. Sosok itu bernama Olfat. Dia yang ada saat aku tertawa di atas kebahagianku, saat aku menangisi kesakitanku, saat aku ingin mengubah segalanya, dan saat aku meratapi kekalahanku. Hanya saja aku adalah orang yang paling bodoh di dunia ini. Aku menyia- nyiakannya dan mengejar yang tak pasti. Setiap orang pasti akan meninggalkan sesuatu yang tak pasti. Mereka butuh kepastian. Begitu juga Olfat. Tapi walaupun sekarang aku tak tahu Olfat ada di mana, aku yakin dia pasti tahu bahwa aku merindukannya. Sudah satu toples besar ucapan “kangen” kutulis di kertas warna- warni dan kubentuk bintang. Di setiap bintang aku juga tidak lupa menulis tanggal kapan aku kangen padanya.

Aku tak ingin Rayi seperti Olfat, yang akhirnya meninggalkanku saat aku mulai mencintainya. Aku harus belajar mencintai Rayi dan mulai mengubur yang namanya kenangan.

-Inga-

9 Oktober 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s