PASUNG

(Syair-Syair Pasungan 2)

Nazar Shah Alam

SUNYI.. SUARA MALAM..

SUARA GUMAM TAK JELAS DARI GUBUK SEDERHANA.. PASUNGAN.

SUARA SENANDUNG TAK JELAS

RONTAAN

Pengko            : Aaaaaakkkkhhh..

Tiap hari begini-begini saja selalu. Entah tak ada yang lain selain malam yang datang bertukar-tukar dengan siang? Aku terus menjadi diri yang tersiksa begini. (Pengko menarik-narik kakinya, mencoba melepaskan kakinya dari pasungan). Heeeiii..(gugup) mengapa mereka mengikatku begini kuat? Aku mau lari menjauh dari gubuk ini. Aku mau lepas. Aku mau melihat dunia yang luas.. Dunia tak sesempit gubuk ini, bukan? Ya, luas, luas sekali.

(pengko meronta ketakutan hingga lelah dan tertunduk lemah)

SUARA LAGU DODAIDI, PENGKO MENCARI ARAH SUARA. KIAN CEPAT. TERSENYUM, KETAKUTAN, PENASARAN.

Diaaaamm…. Aku tak mau mendengar suaramu.. Kau mengingatkanku pada Maryam (tertawa). Maryam kekasihku. Dimana ia sekarang, ya? Akh, aku tak mau tahu. Dia pergi sendiri. Oh bukan, aku yang pulang.(tertawa)

Maryam itu gadis yang pandai. Aku tak ingat lagi asalnya darimana. (berpikir) Ia pandai bersenandung lagu itu tadi. Suaranya rancak. Ya, rancak menurutku. (terkekeh)

Kemana ia? Aku terlalu cepat pulang ke kampungku ini. Di sini padahal aku hanya tinggal di gubuk jelek. Emak dan Abah macam tak mau menerimaku di rumahnya yang megah itu lagi. Aku aib, mungkin. Tapi apa salahku? Aku tak berbuat salah.

Oh, aku pulang dari kuliahku tanpa ijazah (tertawa).

Aku tak mencari itu. Tapi… aku mencari apa ya? Mencari angin untuk dimakan? Bukan juga. Lalu? Aku mencari batu? Mencari kebencian? Mencari kemarahan orang? Menulisnya. Ya, aku menulisnya. Hei, aku penulis? Bukan, aku hanya menulis.

(menangis)

Apa salah aku menulis?

SUARA LAGU DODAIDI. PENGKO MENUTUP TELINGA, KETAKUTAN, HINGGA SUARA ITU HILANG.

(Tertawa) Maryam memang selalu menggangguku. Tiap malam. Mungkin karena ia begitu cinta padaku. Ya, cinta.. (tertawa, lalu menggigil) malam ini dingin sekali. (meraih kain panjang penuh tambalan dan menyelimuti tubuhnya yang kurus dan hanya berbaju singlet).

PENGKO MENGAMBIL SATU PUNTUNGAN ROKOK DARI SEKIAN YANG BERSERAK DI SAMPINGNYA, MENGHISAPNYA TERGESA.

SUARA MALAM. DIBUANGNYA ROKOK YANG HABIS DIHISAP.

SUARA ORANG MENDEKAT. DUA ORANG SEPERTINYA.

Pengko            :Siapa?

Cut                  :Kami, bang Pengko. Cut dan Maneh.

Pengko            :Kenapa lewat sini malam-malam begini?

Maneh             :Kami baru pulang mengaji, bang. (berlalu cepat)

Pengko            :Sebaiknya pulang sajalah kalian. Tak baik gadis semalam ini belum tiba di rumahnya.

Oya, sampaikan pada guru kalian, buatlah peraturan yang tidak memberatkan santrinya. Jangan mencoba-coba menjadi seperti pengajar lain, seperti orang-orang yang berkuasa di kampusku. Apapun tak boleh dilakukan. Apa-apa dilarangnya. Dipasungnya. Jika membantah, akulah contohnya. Dikeluarkan dari perkuliahannya. E. (tertawa)

Dipikirnya aku bisa digertak begitu saja. Aku membuat banyak hal. Persetan dengan peraturan. Eh, dia tahu ternyata aku membangkang, aku dipastikan tidak mendapat nilai lebih tinggi dari E pada semua perkuliahan dengannya. Biarlah, kupikir. Aku berdoa semoga ia mati sebelum aku selesai kuliah. Ternyata dia tak mati juga sampai hari ini. (tertawa)

Tuhan tak mendengar doaku. Padahal aku berdoa karena aku kasihan pada mereka yang tinggal disana. Semoga dosenku itu telah sadar sekarang. Karena jika sampai sekarang ia belum sadar juga, sekali lagi aku doakan..(suara petir bersambung-sambung, Pengko ketakutan)

Tuhan tidak mengizinkan aku berdoa untuknya lagi.. payah… Tuhan tahu maksudku padahal. Tapi Ia tak mau aku mengucapkannya lagi. Ia telah mendengarnya dulu. Hanya Ia enggan mengabulkan doaku. Mungkin itu jahat menurutnya. Mungkin karena ia itu guruku juga(Tertawa)

Kalian masih dengar? Hei,. Masih ada kalian disana?

SUARA DAUN BERISIK. SUARA MALAM. ANGIN RIBUT. PENGKO MENGGIGIL. SUARA ANJING. NGERI. PENGKO MENGGUMAM TAK JELAS.

Pengko            :(ketakutan) Semalam aku dijemput oleh dosen yang paling kusenangi dulu. Ia telah mati. Aku histeris sekali pada hari kematiannya. Mengapa harus dia yang dijemput Tuhan terlebih dahulu? Aku ingin bernyanyi untuknya.

Deungo lon kisah saboh riwayat, kisah baro that, baro that di aceh raya.. aakkhhh mengapa orang yang mendukungku dan sekelompok kami yang mau lebih itu yang mati? Mengapa tak orang-orang yang memasung kreatifitas itu dulu yang pulang ke neraka? (tersenyum, tertawa)

Mungkin juga mereka yang akan masuk surga. Aku yang masuk neraka karena terlalu sering berdoa jahat. Entahlah. Biarlah tuhan yang mengaturnya nanti. Tuhan pasti lebih tahu.

SUARA ORANG MENDEKAT

Geuchik           :Sudah boleh tidur, Pengko.

Pengko            :Malam terlalu dingin untuk berjalan sendirian, pak Geuchik. Cari saja istrimu yang lari dengan laki-laki lain. Obati saja gila jabatanmu dulu, baru kau suruh aku tidur.

Geuchik           :Anak muda memang lebih peka dengan keadaan. Orang pandai sepertimu mana bisa tidur sebelum menciptakan sesuatu yang bermakna. Malam ini sudah menghasilkan apa?

Pengko            :(Tertawa). Tak ada. Aku dari tadi mabuk mengumpat petinggi-petinggi tempat aku kuliah dulu. Mereka memulangkanku kesini. Pak Geuchik pernah kuliah?

Geuchik           :Aku diangkat dengan hasil rapat warga. Hanya lulusan SMP.

Pengko            :(terkekeh)

Jika pengetahuanmu cuma sampai di situ, bagaimana caranya kau memimpin warga? Akh, tapi baik juga kau tak sekolah tinggi. Semakin banyak ilmu, semakin pandai kau menipu. Seperti…..

Hei, tak boleh aku mengumpat lagi. Nanti Tuhan mengirim lagi petir untukku. Aku takut petir.

Geuchik           :Makanya, cepatlah kau sembuh. Kami menunggumu menggantikan kami yang sudah tua-tua ini.

Pengko            :Hah, kau bilang apa? Memangnya aku sakit apa? Aku sehat-sehat saja. Kalian saja yang merasa aku sakit. Eh, aku ingin kau jawab, pak. Kenapa kalian memasung kakiku begini? Apa salahku? Aku bukan aib bagi kalian, bukan? Oh.. aku tak mau menjadi Geuchik di kampung kita ini. Orang disini tak bisa menerima orang sakit (tersedu).

Geuchik           :Kau memang pandai Pengko.

Pengko            :Jangan menghiburku

Geuchik           :Tap..

Pengko            :Aku tak pulang dengan ijazah. Kau tahu? Aku memang tak seperti mereka yang menerima kekangan itu begitu saja. Aku ingin menciptakan banyak hal. Mereka melarangku untuk berbuat banyak. Apanya yang banyak? Memang tak satupun aku diizinkan. Aku ingin melakukan banyak hal.(berteriak)

Geuchik           :Saya pulang dulu, Pengko. Hujan mulai reda.

Pengko            :Sebaiknya memang begitu. Aku ingin bertemu dua tamuku di luar sana. Telah  lama mereka menungguku. Kau tak kunjung pulang juga. Besok kau kembali kesini. Bisa dengar?

Geuchik           :Baiklah. Jaga dirimu.

Pengko            :Dari dulu juga aku menjaga diriku. Malam ini tak perlu kau berpetuah, angin telah menjadi sahabatku, konon lagi nyamuk, anjing, kecoa, binatang malam lainnya, semua telah menyatu denganku.

Geuchik           :Semoga Tuhan menjagamu

Pengko            :Pulanglah.

SUARA HUJAN PELAN-PELAN MENDERAS.

Pengko            :Masuklah, kawan. Aku tak suka kalian berbasah-basah di luar.

DIAM SEKIAN LAMA.

Pengko            :(murka) Hei.. masuklah. Aku telah lama menunggu kalian menjemputku. Tolong bawa aku lari dari tempat ini (menggigil, ketakutan).

SUARA LOLONG ANJING MENAKUTKAN. PENGKO DIJERAT KETAKUTAN. IA MENANGIS. SUARA LAGU DODAIDI. PENGKO MENUTUP TELINGA, KETAKUTAN, SUARA ITU TAK KUNJUNG HILANG.

Pengko            :Mengapa kau selalu datang menggangguku, Maryam? Apa maumu? Kau merinduikukah? Aku telah tak mau kembali ke tempatmu. Aku bosan di sana. Mereka tak mengizinkan aku melakukan apapun. Mereka melarangku berkarya. Aku tak mau dipasung di sana, biarlah di sini aku menghabiskan masa-masa indah hidupku. Kau akan membaca semua yang kutulis saat berada di sini jika suatu hari kau datang menjengukku. Kata-kataku tertempel di kayu ini. Bacalah nanti. Kau akan menonton lakonku, melihat semua hasil karyaku. Sebentar lagi aku akan juga pergi dari gubuk ini, maka jangan kau ganggu aku. Para tamuku berdiri di luar telah sangat lama, kau malah menggangu jalan mereka. Aku tak sanggup lagi di sini.(suara lagu masih terdengar)

Diaam.. aku tak mau lagi mendengar suaramu. Sama seperti aku tak mau melihat kampus kita, dosen-dosen yang memenjarakan kreatifitasku, pihak-pihak yang hanya menerima begitu saja, aku benci semuanya. Ini tempatku yang aman, yang bebas.(meronta)

SUNYI

Pengko            :Masuklah, kawan. Aku telah bersedia pulang.

BAYANG-BAYANG HITAM, BERPUTAR, TAK JELAS WAJAHNYA. KIAN BANYAK BAYANG ITU. PIKAR KEWALAHAN MENCARI SATU TITIK PANDANG. TERDENGAR GUMAM TAK JELAS DARI BAYANG.

Pengko            :Jangan ribut, kawan. Nanti orang kampung tahu kalau aku lari bersama kalian. (suara gumam tak jelas kian keras)

Hei, diamlah. Aku ingin pergi bersama kalian dalam tenang.(menggigil, ketakutan, marah, tertawa)

Jangan bawa aku ke sisi Maryam lagi, kawan. Aku tak ingin lagi satu tempat dengannya. Aku ingin berkarya. Jangan bawa aku ke pasungan itu lagi. Jangan.(menangis)

LOLONG ANJING, SUARA MALAM, DODAIDI SAYUP TERDENGAR, PENGKO TERKAPAR.

Rackhan Kozan

Saban tengah malam

15-20 April 2010


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s