PENINGGALAN PAPA

Oleh Maria Ulfa

Para Pelaku:

  1. Togar
  2. Indah
  3. Mama Togar

Malam, di kamar Togar. Tampak Togar sedang mengelus-elus papan surving kesayangannya.Dia sedang mengingat kembali kenangan bersama papan surving itu. Di mana dulu dia pernah memenangkan lomba surving.

(Indah melihat kakaknya sedang melamun dan dia memutuskan masuk ke kamar Togar secara diam-diam)

Indah   : Hey lagi ngelamunin apa tu! (mengejutkan Togar)

Togar   : Kamu Indah kagetin abang aja.

Indah   : Abis abang melamun aja indah perhatiin dari tadi. Emang abang lamunin apa          sih ayo (menggoda Togar)

Togar   : Gak ada ah.

Indah   : Gak biasanya abang menyendiri sambil pegang papan surving. Atau abang      mau ikut pertandingan surving lagi, kapan tu bang?

Togar   : Bukan. Abang lagi bingung ni seminggu lagi Sari ( pacar Togar) ulang tahun.

Abang berniat mau kasi dia HP yang kayak punya kamu sebagai hadiah

Ulang tahun (membalikkan badan ke arah Indah)

Indah   : Apa! (terkejut)

Togar   : Iya, bisa kan?

Indah   : Jadi, abang akan menjual papan surving itu? (menunjuk ke arah papan

surving)

Togar   : Iya.

Indah   : Abang uda gak waras ya cuma mau beliin kado untuk orang, abang akan

menjual papan surving. Papan surving abang kan cuma satu lagian itu satu-

satunya peninggalan dari papa.

Togar   : (diam)

Mendengar keributan mama keluar dari kamar. Dia mendapati kedua anaknya sedang mengadu argumen.

(Mama masuk ke kamar Togar)

Mama  : Ada apa ini malam-malam kok ribut? Kan malu kalo sampai kedengaran

sama tetangga.

Indah   : Ini ma, abang mau jual papan survingnya.

Mama  : Benar itu Togar yang adik kamu bilang barusasn (duduk di samping Togar)

Togar   : Ya, ma.

Mama  : Untuk apa kamu menjual papan surving itu? Apa kamu ngutang sama orang?

Indah   : Bukan, abang mau beli HP (memotong pembicaraan mama)

Mama  : Bukannya HP kamu masih bagus?

Indah   : Abang beliin untuk pacarnya Ma.

Mama  : Bukannya mama melarang, tapi adik kamu ada benarnya juga Gar. Itu satu-

satunya peninggalan alm. papa (tampak sedih)

Tidak sengaja mama menetaskan air mata. Togar dan Indah saling tatapan.

Togar   : Maafin Togar. Togar emang salah, gak semestinya Togar punya niat untuk

menjual barang peninggalan Papa (bangun mendekati mama). Maafin Togar

Ma

Mama  : Mama bukannya melarang-larang kamu Gar, tapi mama merasa keberatan

kalo kamu jual papan surving. Kamu tau sendirikan bagaimana perjuangan

papa waktu membelikan kamu papan surving itu.

Togar   : Mama benar bagaimana susahnya papa dulu mengumpulkan uang sedikit

demi sedikit untuk beliin Togar papan surving. Sampai kapanpun Togar

gak akan punya niat untuk menjual papan surving ini (mengambil papan

surving yang terletak di atas lantai)

Indah   : Nah, itu baru namanya abang Indah berani mengambil keputusan yang tepat.

(tersenyum)

Togar   : Kalo bukan karna Mama sama Indah yang udah membuka mata hati Togar

mungkin besok pagi uda Togar jual.

Indah   : Jadi, abang sekarang mau ngasih apa untuk Kak Sari.

Togar   : Gak tau lah Dik ntar ja dipikirin lagi, lagian ulang tahunnya kan masih

seminggu lagi. Tapi kamu harus janji bakalan bantuin abang untuk memilih

kado apa yang cocok abang kasi untuk Kak Sari.

Indah   : Beres tu bang.

Mama  : Mama bangga punya seperti kalian, jika ada masalah mau diselesaikan sama-

sama (memeluk Togar dan Indah)

Setelah masalahnya terselesaikan Mama dan Indah kembali ke kamarnya masing-masing. Keesokan paginya keluarga mereka terlihat lebih akrab dan harmonis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s