Harus Siap!

Menjelang subuh, aku tersentak—setelah pulas semalaman, tapi bukan karena lelah, melainkan karena puasku setelah lebih kurang dua hari bersama kawan-kawan Gemasastrin.

Kutores coretan ini dengan tiada maksud apa pun, tapi inspirasi muncul setelah melihat rasa kekecewaan adikku di milis. Kupikir, setelah malam itu, ia berubah lebih dewasa, lebih mau belajar, lebih mau memahami, lebih mau berimajinasi, lebih mau mempercayai, dan memiliki kemauan lebih untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Namun, ternyata ia masih lemah, masih anak-anak setidaknya di mataku, masih cengeng, masih mudah terpukul menerima sesuatu yang tidak seperti diharapkannya.

“Tangan terlentang belum tentu menang/ Tangan telungkup belum tentu kalah/ Kalah menang teka-teki/ Yang pasti sumbang” begitu secuil larik “Hom Pim Pa” Tengsoe Tjahjono, sebuah sajak yang sangat kusukai itu.

Baiklah, agar tidak terlalu panjang atau tidak terlalu larut pula kecewaku padanya, langsung saja kusebut sedikit apa itu drama dan apa itu teater, selanjutnya kita pahami pula apa itu lomba dan apa itu kompetisi.

Bicara drama adalah bicara naskah, teks. Sebuah cerita, tentu ia memiliki alur. Boleh jadi drama Nazar dkk. memiliki cerita yang unik, kocak—aku tak berani menyebutnya komedi. Terlalu dini menyebut sesuatu yang diperlucu-lucu sebagai drama komedi, karena di tempat lain ada istilah dagelan dan parodi.

Nah, alur cerita tatkala masih drama, kupercaya naskah Nazar itu bagus. Akan tetapi, setingkat manakah aktor-aktor mampu membawa kebagusan naskah ke atas panggung? Kupikir Nazar juga harus mengetahui ini.

Elastisitas alur dalam drama atau teater itu semestinya menanjak, bukan menurun. Kalau menurun, secara cepat harus dibuat menanjak kembali, sebelum hilang emosi penikmat/penonton. Harusnya, untuk sebuah pementasan singkat seperti kemarin, sutradara dapat mengatur tensi emosi penonton dengan alur yang tidak over, dengan kocak yang tidak berlebihan, dengan akting yang tidak dibuat-buat meskipun kita sedang sengaja membuat-buat sejumput lakon kehidupan di atas pentas.

Teknik muncul kelompok mereka bagus. Roh penonton dibuatnya langsung terkejut dengan kocaknya dua para penembak yang main-main itu. Sayang, iringan puisi “Merdeka” karya Maskirbi yang dibaca di belakang panggung sama sekali tidak menyentuh, melainkan meluruhkan emosi penonton antara kocak dan serius. Kupikir artikulasi pembaca puisi di belakang panggung itu juga harus diolah lagi, selain emosi roh puisinya tidak muncul. Sebut saja kata “Merdeka! Merdeka!” pada bait pertama, tentu beda emosi pengucapannya dengan kata “Merdeka! Merdeka!” pada bait ketiga.

Selanjutnya, limit main tembak-tembakan dua anak-anak itu juga terlalu panjang sehingga emosi tawa penonton menurun. Meskipun anak-anak itu masih berusaha melucu juga dengan tingkah dengan dialog-dialognya, tetap penonton tidak tertawa lagi. Di sini intensitas alur menurun.

Ketika terjadi penembakan terhadap tokoh abang, emosi penonton beranjak tragis, haru. Semua penonton diam dan takjub. Akan tetapi, lagi-lagi disayangkan limit alur kesedihan aktor terlalu diperlama. Padahal, saat tokoh adik mulai kelihatan stres, lebih maknyus jika diperstres terus atau tidak sama sekali, karena emosi penonton sempat berubah melihat tokoh adik yang mulai  stres. Limit sedihnya yang terlalu panjang membuat cerita jadi monoton bahkan penonton sempat ribut sendiri di lokasinya.

Ada beberapa catatan kecil lain yang tidak harus semuanya kutulis di sini. Bukan karena azan subuh yang sudah berkumandang, tapi karena masih ada catatan kecil untuk kelompok lain, tentu ideku harus kusisakan untuk mereka pula. Namun, jika Nazar mengatakan siap memperlihatkan kembali teater kelompoknya sebagai wujud pertanggungjawaban dia, kami dari tim kurator hendak mengatakan, siap memanggil orang luar untuk melihat, menonton, dan menilai pertunjukkan tersebut, karena kami mulai sadar tidak dipercayai oleh anak-anak kami, mahasiswa kami sendiri, dalam memberikan apresiasi. Penilaian kami seakan bertentangan besar dengan keinginan mahasiswa kami. Bahkan kami, tim kurator, sempat dituduh hanya memberikan teori, yang dengan teori itu kelompok mereka merasa main hebat, sedangkan kami telah mengalahkannnya. Padahal, kalah menang adalah teka-teki.

Bagi kami, semuanya adalah anak-anak kami, mahasiswa kami, kawan-kawan kami. Mengapa pula harus subjektif untuk seseorang atau sekelompok orang jika untuk semua kelas, ilmu yang sama kami berikan?

Bagi semuanya: jika tidak siap kalah, jangan bertarung. Ini saranku, karena di depan, kita masih memiliki banyak ruang kreasi. Sedangkan kemarin, bukan pertarungan, bukan perlombaan, tapi kompetisi dalam belajar. Ini yang kusebut beda “lomba” dengan “kompetisi”. Jadi, jika kita siap menang, kita juga HARUS SIAP KALAH! Optimis untuk mengatakan, “Kita BELUM kalah!” adalah yang terpenting.

 

Terima kasih,

 

Herman RN

(Orang yang siap kalah, tapi memiliki jiwa optimis untuk BISA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s